Sang Dwiwarna Kian Merana

by | Jul 26, 2016 | cover story, Edisi 13 | 0 comments

Tulisan: Firdaus Effendy
Ilustrasi: Nanda Nini Anggalih

Bendera merah putih adalah simbol sakral bangsa Indonesia. Lambang keberanian dan kesucian perjuangan para pahlawan bertempur melawan penjajah. Saat peringatan hari kemerdekaan, semua orang bersemangat mengibarkan bendera merah putih di halaman rumah masing-masing. Namun lambat laun semangat itu kian pudar, mengibarkan bendera serasa kewajiban yang memberatkan.

KERTOSONO.NET

Pertengahan Juli, awal tahun 1960-an, jarum pendek menunjuk di angka 6, masih pagi. Seperti biasa sebelum berangkat kerja, Dasim guru Sekolah Rakyat Bangsri keluar dari rumahnya yang berada di gang kecil antara Jalan Gadung dan Jalan Kusuma Bangsa. Orang-orang menyebutnya “Gang Gadung Kidul Kali”.

Setelah menyeberang jembatan kecil di belakang rumahnya, berjalan menyusuri gang dan melewati lapangan tenis, Dasim mengamati halaman rumah para tetangganya, mulai banyak yang memasang bendera. Suasana Kertosono memang sudah mulai semarak warna merah dan putih. Meski belum masuk bulan Agustus, namun sudah banyak warga yang berinisiatif memasang bendera tanpa menunggu instruksi dari pemerintah.

Memang orang yang hidup di masa itu adalah para pejuang, orang yang merasakan beratnya perang melawan penjajah dan saksi hidup suasana haru pasca pembacaan proklamasi. Hampir seluruh kota di Indonesia masih diliputi suasana “baru merdeka”. Dan bulan Agustus adalah saatnya memperingati dan merayakan kemerdekaan.

Tempat yang dituju Dasim adalah Mbah Min, seorang nenek warga Jalan Gadung yang berjualan nasi pecel di depan TK Pancamurni, seberang lapangan tenis, yang hanya diperlukan jalan kaki saja. Karena masih pagi, belum banyak pembeli yang datang, namun satu cething (bakul nasi dari anyaman bambu) nasi, bumbu pecel dan kulupan (lalapan), beserta setumpuk daun pisang untuk pincuk (tempat menyajikan sekaligus pembungkus) sudah tertata rapi. “Bungkus nasi pecel satu mbah,” kata Dasim.

Orang-orang yang berlatih tenis juga sudah jadi langganan sarapan nasi pecelnya Mbah Min. Sering juga Dasim makan di warung Mbah Min untuk bisa berbincang dengan mereka. Minggu itu hangatnya obrolan adalah tentang lomba Agustus-an, yang rutin diadakan siang hingga sore sepulang sekolah di lapangan tenis.

Salah satu cara untuk memeriahkan suka-cita menyambut Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia adalah lomba untuk anak-anak dan remaja. Meski kondisi perekonomian masyarakat yang belum begitu membaik, namun tidak menghalangi niat warga untuk beraktualisasi dan berekspresi. Sekaligus memberikan edukasi nilai-nilai perjuangan kepada generasi muda.

Dengan peralatan yang sederhana, lombapun berlangsung meriah, ditonton dan menghibur banyak orang. Balap karung, gigit sendok berisi kelereng, kepruk kendil, membawa balon dengan tampah, memasukkan pensil ke dalam botol dan gigit uang dalam jeruk adalah nomor-nomor yang sangat populer.

Selesai sarapan Dasim tidak langsung berangkat mengajar, dikeluarkannya kain bendera beserta tiang dari bambu, lalu diikat di pagar depan rumah. Demikian juga dengan para tetangganya. Sebagian ada yang langsung ditancapkan di halaman rumah.

Sepanjang perjalanan dari Desa Tembarak, perlahan Dasim mengayuh sepeda menuju Desa Drenges hingga Desa Bangsri. Ternyata sudah banyak juga rumah-rumah yang memasang bendera. Semakin hari semakin banyak yang memasang, hingga memasuki bulan Agustus tidak ada selembar kainpun berkibar di depan rumah penduduk, kecuali kain bendera merah putih.

Nuansa merah putih yang sederhana tapi berwibawa itu membakar semangat warga dalam memperingati hari kemerdekaan. Di mana puncaknya adalah saat Pidato Kenegaraan yang dilaksanakan di Istana Negara.

Dasim memulangkan para muridnya lebih awal. Sebagian murid ada yang pulang atau bermain, tapi banyak juga yang bergerak menuju rumah Darmo Kasimin, pedagang singkong yang lebih sering dipanggil “Pak Min Tela”.

Di halaman rumah yang berlokasi di pojok pertigaan itu sudah berkumpul sekitar seratus orang, kebanyakan adalah para pedagang yang lewat dan warga sekitar. Semuanya bersemangat mendengarkan pidato langsung Presiden Soekarno melalui sebuah radio milik Kasimin yang dinyalakan dengan volume keras. Sesekali terdengar sorak sorai warga di tengah orasi yang berapi-api Sang Proklamator.

₪₪₪₪₪

Setengah abad berlalu, Dasim sudah pensiun. Kakek kelahiran 1935 itu sudah beranak cucu. Kasimin yang kelahiran 1931 juga sudah tidak berjualan singkong lagi, namun sukses mempunyai toko kelontong yang cukup laris. Sudah tidak ada lagi orang bergerombol di depan rumahnya untuk mendengarkan Pidato Kenegaraan Presiden Republik Indonesia.

Saat ini pidato Kenegaraan sudah bukan agenda yang ditunggu-tunggu masyarakat, meski bisa diikuti langsung melalui televisi. Selain mungkin bahasa orasi yang normatif dan kurang greget juga masyarakatnya yang bukan mantan pejuang. Seandainya ada hal yang menarik dari pidato dan perlu didiskusikan, cukup dilihat rekamannya melalui internet.

Demikian juga pengibaran bendera merah putih, warga semakin malas memasangnya di halaman rumah masing-masing, padahal kain bendera mudah didapat dengan harga yang murah. “Dulu hampir tidak ada rumah warga yang tidak memasang bendera, paling hanya satu dua rumah, itupun karena mereka tidak mampu beli kain,” kenang Dasim saat ditemui di rumahnya. “Dan juga saat itu ada perasaan rugi dan menyesal jika tidak mengikuti pidato presiden,” imbuhnya.

Perayaan kemerdekaan bangsa Indonesia sebentar lagi tiba. Akankah Sang Dwiwarna kian merana? Tergeser oleh attribut-attribut aneh, seperti baliho atau umbul-umbul aneka warna? Merah, putih, hijau, kuning dan biru. Juga oleh attribut yang meskipun merah putih tapi ada gambar sponsor produk komersial atau partai politik. Suasana peringatan kemerdekaan yang tidak berwibawa. Meriah tapi melupakan sejarah. (***)

Archives

Categories

E-Magazine PDF Version


Arsip Majalah Kertosono Versi 1.00

Susunan Redaksi Majalah Kertosono Edisi 13. Editor in Chief: Firdaus Effendy. Senior Editor: Kusdianto, Ety Andrijana, Faizal Ansyori, Difana Jauharin. Managing Editor: Davit Adi Saputro. Editor: Livia Alvita. Digital Marketing Executive: Moh. Alvin Kholily. Art Director: Fariz R. Wijaya. Web Developer: Lian Aga Aditya. Kontributor Tulisan: Deni Ekawati, Wijaya Kurnia, Andira Gita N, Wisnu Retno, Nimas Faradyta, Nalindera Karismawati. Kontributor Perwajahan: Nanda Nini Anggalih, Andri Gianapril William, Aditya Frilly H. Fotografi: PhoKerS. ALAMAT REDAKSI: Jl. Merapi RT. 03 RW. 02 Ds. Tanjung Kertosono. PENERBIT: KERTOSONO KREASI MANDIRI (http://kkm.kertosono.net). AKUN BANK/BANK ACCOUNT: No. 2050-01-000784-53-6 BRI KCP KERTOSONO A/n: KERTOSONO KREASI MANDIRI

Pin It on Pinterest

Shares
Share This