Cover Story

Ekonomi kreatif merupakan sistem ekonomi berbasis Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai motor utama dalam penggerak industri kreatif. Limabelas subsektor industri kreatif yang terdiri dari (1) Periklanan, (2) Arsitektur, (3) Pasar Barang Seni, (4) Kerajinan, (5) Desain, (6) Fesyen, (7) Video, Film & Foto, (8) Permainan Interaktif, (9) Musik, (10) Seni Pertunjukan, (11) Penerbitan, (12) Layanan Komputer dan Piranti Lunak, (13) Televisi dan Radio, (14) Riset dan Pengembangan, dan (15) Kuliner menjadi wadah sekaligus tema dalam edisi Majalah Kertosono kali ini. Bisa dibilang dengan industri kreatif ini adalah langkah Indonesia untuk menjadi negara maju dengan capaian minimal 4% penduduknya berwirausaha. Selamat membaca.

Catatan Redaksi

Insan Berdaya Kreatif

Pada masa sekarang ini tidak sulit untuk menemukan anak pintar, anak yang pandai dalam hal pelajaran sekolah. Tolok ukurnya jelas, yaitu anak-anak yang menduduki peringat atas di sekolahnya. Faktor yang mendukung di samping faktor keturunan adalah kualitas gizi anak yang semakin meningkat seiring peningkatan kesejahteraan hidup orangtuanya, juga disebabkan karena faktor kemajuan teknologi informasi saat ini. Di mana segala hal yang ingin diketahui dan dipelajari bisa dengan sangat mudah untuk diakses. Namun akan berbeda halnya bila diminta untuk mencari anak kreatif. Bukan hal yang mudah untuk dilakukan karena memang agak sulit menguraikan tolok ukur anak kreatif itu seperti apa. Setiap orang pasti mempunyai persepsi masing-masing untuk menerjemahkannya. Dan harus diakui pula bahwa hal ini jauh lebih penting dibandingkan sekedar menjadi anak pintar. Karena di zaman sekarang, salah satu kunci keberhasilan dan kesuksesan seseorang adalah mempunyai keterampilan untuk kreatif. Daya kreatif tidak muncul secara tiba-tiba atau berbekal sekedar bakat dari lahir (talenta) saja. Dibutuhkan ilmu pengetahuan tersendiri untuk mengasah sisi kreativitas seseorang. Bila kita tinjau fenomena yang pernah terjadi, tarian tradisional budaya asli Indonesia banyak dipelajari secara khusus oleh bangsa lain. Bahkan ada yang sampai di’aku’ oleh negara lain. Bukan itu saja, ada juga makanan tradisional, lagu daerah, dan lainnya yang berciri khas Indonesia dan memiliki daya jual. Sudahkah hak paten setiap kesenian dan budaya itu dimiliki oleh kita selain batik yang sudah diakui oleh dunia internasional? Padahal potensi kekayaan alam dan budaya Indonesia yang bermuatan ekonomi kreatif, sudah seharusnya bisa dikelola secara optimal oleh generasi penerus bangsa ini. Salah satu faktor yang memicu daya kreatif adalah adanya ‘tantangan’ yang biasanya akan memunculkan minat belajar. Sudah menjadi sebuah tuntutan, saat ini materi/pengetahuan tentang kreativitas harus diberikan kepada anak didik di setiap jenjang lembaga pendidikan dengan memfasilitasi kreativitas mereka secara total. Muatan pendidikan harus bernuansakan menggali daya kreativitas setiap anak didik dan memberikan pendidikan yang bermuatan ekonomi kreatif, yang sangat erat kaitannya dengan upaya menumbuhkembangkan jiwa kewirausahaan mereka. Materi pembelajaran ekonomi kreatif harus dikaitkan erat dengan upaya pelestarian budaya bangsa. Meskipun materinya sangat sederhana namun akan dahsyat hasilnya. Penerapan metode pembelajaran berbasis ‘projek’ (Project based learning) merupakan salah satu cara yang bisa memicu daya kreativitas anak didik. Materi kreativitas yang dipelajari biasanya dibagi menjadi dua bagian besar, yaitu pemahaman dan cara bagaimana untuk kreatif. Pada setiap mata pelajaran atau tema yang diberikan, serangkaian langkah-langkah kegiatan harus dilakukan; mulai dari merencanakan, merancang, membuat produk, memasarkan, hingga mengevaluasinya untuk pengembangan ke depan. Hingga dipastikan setiap anak didik mempunyai bekal pengalaman secara langsung tentang dunia kewirausahaan di samping sisi kreativitas mereka juga semakin terasah dengan sendirinya. Model pembelajaran seperti ini diperlukan untuk mengimbangi perubahan dan tantangan global yang terus bergerak dinamis, dengan lebih mempersiapkan mereka untuk menghadapi tantangan-tantangan masa depan melalui pengetahuan, keterampilan, sikap, dan keahlian untuk beradaptasi, serta bisa bertahan hidup dalam lingkungan yang senantiasa berubah. Hanya mereka yang kreatif dan kompeten di bidangnya yang akan ke luar sebagai pemenang. Dalam konteks ini, lembaga pendidikan merupakan salah satu tempat tumbuh kembang yang utama bagi insan-insan kreatif dan berdaya saing tinggi di kemudian hari. (Ety Andrijana)

Susunan Redaksi Majalah Kertosono Edisi 14. Editor in Chief: Firdaus Effendy. Senior Editor: Kusdianto, Ety Andrijana, Faizal Ansyori, Difana Jauharin. Managing Editor: Davit Adi Saputro. Editor: Livia Alvita. Digital Marketing Executive: Moh. Alvin Kholily. Art Director: Fariz R. Wijaya. Web Developer: Lian Aga Aditya. Kontributor Tulisan: Tamaya Aristalia Arlini, Tsabbit Aqdami Mukhtar, Ita Surajaya, Halimatus Sya’dyyah, Heldyana Umabella Prabasari, Cholis Tontowi, Dhawil Firdausy, Siwi Yuli Purnamasari, Eva Nurohmah. Fotografi: PhoKerS. ALAMAT REDAKSI: Jl. Merapi RT. 03 RW. 02 Ds. Tanjung Kertosono. PENERBIT: KERTOSONO KREASI MANDIRI (http://kkm.kertosono.net). AKUN BANK/BANK ACCOUNT: No. 2050-01-000784-53-6 BRI KCP KERTOSONO A/n: KERTOSONO KREASI MANDIRI

Pin It on Pinterest

Shares
Share This