COMPANY PROFILE


Gathering Majalah Kertosono bertepatan dengan ultah pertama

Memberdayakan Warga
Dengan Warta

KERTOSONO.NET – Berawal dari keprihatinan atas rendahnya daya beli masyarakat, Majalah Kertosono lahir dengan semangat peduli lingkungan. Visi daya beli seharusnya bisa tercapai tanpa harus membangun banyak pabrik. Tapi dengan memperbaiki sumber daya manusia agar lebih edukatif dan menerapkan gaya hidup yang hemat.

Latar Belakang

Kertosono pada dekade awal abad millenium adalah kota yang mulai terusik kedamaiannya. Cara hidup tradisional yang luhur dengan masyarakatnya yang masih suka bersosial mulai luntur. Fenomena yang tidak saja dialami oleh Kertosono, tapi hampir semua kota kecil yang sedang demam internet.

Gelombang baru yang benar-benar menghilangkan batas-batas budaya antara kota besar dan kota kecil, antara negara maju dan negara berkembang. Apa yang sedang trend di Amerika atau Eropa dengan cepat diikuti oleh orang Indonesia. Bahkan masyarakat kota kecil seperti Kertosono ini sangat mungkin tahu lebih dulu trailer film box office terbaru daripada orang Jakarta atau Surabaya.

Namun ini bukanlah sesuatu yang positif, karena berpotensi menyebabkan culture shock. Salah satunya adalah ditirunya secara mentah-mentah gaya hidup yang membutuhkan biaya tinggi di negara-negara maju, terutama Amerika Serikat.

Tentu saja secara tidak langsung hal ini malah menurunkan daya beli masyarakat yang memang sudah rendah. Dengan UMR Kertosono yang saat itu sekitar Rp750.000, termasuk kelompok paling rendah di Jawa Timur, masyarakat memenuhi kebutuhan konsumtifnya dengan cara apa saja. Daya finansial tiap keluarga pun tertekan, sehingga kebutuhan yang lebih penting seperti gizi dan pendidikan terabaikan. Inginnya terlihat modern, tapi justru menjadi korban modernisasi.

Sejarah

Dengan daya beli yang rendah, berdagang di Kertosono menjadi sulit. Para pengusaha tidak bisa memberikan gaji yang layak untuk karyawannya. “Kerja di Kertosono gajinya kecil, mending kerja di luar Jawa gaji besar”, “Usaha di Kertosono susah, mau ambil untung agak besar sedikit nggak laku, kalau untung kecil terus begini ya berat”. Itulah dua alasan yang paling banyak digunakan oleh warga Kertosono untuk hijrah ke kota lain.

Tampilan awal Majalah Kertosono masih dalam bentuk blog Warga yang hijrah itu tentu bukan individu dengan skill pas-pasan, buktinya mereka bisa eksis di kota besar. Justru yang bertahan di Kertosono inilah yang skill pas-pasan. Ditambah dengan para pedagang dari kota lain yang mencoba peruntungan, yang tentu saja kurang peduli dengan kebersihan lingkungan dan ketertiban kota. “Toh ini bukan kota kami,” begitu mungkin pikir mereka. Di mata mereka Kertosono bagaikan tebu, habis manis sepah dibuang. Jadilah Kertosono kota yang mulai kumuh dan semrawut.

Kondisi ini tidak boleh dibiarkan, harus ada gerakan untuk mengimbangi. Tepat pada 23 Oktober 2010 muncullah Blog Kertosono di internet. Media digital yang bertekad akan mengekspose semua kreativitas warga Kertosono. Terutama bidang wirausaha. Agar masyarakat tahu, ternyata di Kertosono ada barang dan jasa yang mereka butuhkan, tidak perlu belanja ke kota lain. Media yang memanfaatkan sisi positif dari internet, yaitu daya jangkau yang sangat cepat dan luas hingga ke seluruh dunia. Agar para perantau tahu apa yang terjadi di kota yang telah mereka tinggalkan, sehingga warga termotivasi untuk memberikan yang terbaik karena kreativitas mereka disorot oleh seluruh warga Kertosono dari mana pun.

Media yang berprinsip bahwa artikel harus ditulis oleh orang Kertosono dan tidak boleh copy-paste. Siapa saja boleh menulis. Agar semua warga menjadi pintar, karena menulis adalah budaya orang modern, untuk bisa menulis orang harus membaca, menganalisa dan membuktikan. Semua ini jika dilakukan secara terus-menerus disertai dengan evaluasi dan perbaikan, tentu akan menghasilkan perubahan. Dengan harapan masyarakat menjadi modern, daya saing dan daya beli pun meningkat.

Visi dan Misi

Visi, terwujudnya masyarakat Kertosono dan sekitarnya yang berbudaya modern, berdaya saing dan berdaya beli tinggi. Misi, menyediakan media gratis yang profesional dan berkomitmen, bagi masyarakat Kertosono dan sekitarnya, agar bisa dijadikan sebagai etalase produk lokal, galeri seni/budaya, aktualisasi karya tulis dan fotografi yang edukatif dan informatif.

Kritik Yang Membangun

Setelah tiga bulan online dalam bentuk blog, timbul permasalahan. Tampilan blog yang monoton mendapat kritikan, maka muncul ide untuk meninggalkan format blog dan pindah ke E-Magazine. Akhir Januari 2011 Blog Kertosono dihentikan dan terbitlah Majalah Kertosono secara online, di mana edisi pertama ini masih menggunakan alamat gratisan KERTOSONO.CO.NR.

Dengan alamat gratisan ini pun timbul masalah lagi, sulit membagikan link artikel di dunia maya, terutama di Facebook yang cukup ketat peraturannya. Alamat gratisan mudah ditolak karena ditengarai sering digunakan untuk konten negatif. Dan sejak edisi ke tiga bulan Maret 2011 masalah ini teratasi, Majalah Kertosono menggunakan domain berbayar KERTOSONO.NET.

Kritik terus mengalir, di antaranya adalah Majalah Kertosono susah diakses via HP. Memang, karena format E-Magazine adalah menampilkan satu halaman penuh dalam JPG. Membutuhkan layar yang lebar dan bandwidth yang memadai. Tim IT menjanjikan versi mobile kepada pembaca, dan pada edisi ke tujuh, Januari 2012 Majalah Kertosono versi mobile bisa diakses melalui m.kertosono.net.

Namun ada kritik yang cukup berat untuk direalisasikan. Tidak sedikit pembaca yang menginginkan Majalah Kertosono hadir dalam versi cetak. Ini adalah kritik paling berat karena untuk mewujudkannya butuh dukungan penuh dari SDM dan finansial. Padahal selama ini versi online dikerjakan oleh tenaga part time, freelance dan voulenteer. Benar-benar modal dengkul. Toh Majalah Kertosono tidak tinggal diam, mimpi pembaca harus diwujudkan. Langkah penting untuk bisa terbit dalam versi cetak sudah dilakukan, yaitu membentuk badan hukum. LEMBAGA SOSIAL KERTOSONO KREASI MANDIRI secara resmi berdiri di hadapan notaris pada tanggal 3 Juli 2012.

Tema Kertosono

Salah satu strategi agar Majalah Kertosono layak dibaca adalah fokus hanya kepada hal-hal yang berkaitan dengan Kertosono. Masyarakat tidak akan menemukan artikel tentang Kertosono di media lain sedetil dan selengkap yang diberikan oleh Majalah Kertosono. Strategi ini bisa dikatakan sambil menyelam minum air, di sisi pemasaran tentu ini adalah kelebihan yang tidak dimiliki oleh media-media lain yang berskala lebih luas.

Selain juga akan memotivasi lahirnya jurnalis-jurnalis baru dari kota kecil ini. Karena materi tidak akan bisa didapatkan kecuali harus terjun langsung meliput secara detil budaya, aktivitas dan acara-acara yang diadakan di Kertosono. Fotografi terbaru pun selalu menghiasi setiap artikel, foto yang menggambarkan suasana terkini, agar rindu para pembaca di rantau bisa terobati.

Edisi Yang Fleksibel

Majalah Kertosono memiliki cara yang unik dalam menerbitkan artikel. Dengan memanfaatkan social network seperti Facebook dan Twitter, terbentuk komunitas yang mendapat fasilitas istimewa dari redaksi. Yaitu diberi kesempatan pertama untuk membaca sebuah artikel yang fresh from the oven, meskipun edisi belum terbit. Periode pun bisa diatur sedemikian rupa menyesuaikan momen dan kesibukan komunitas pembaca yang sangat majemuk.

Keunikan ini justru didukung oleh beragamnya latar belakang penulis, fotografer dan ilustrator. Terbukti meskipun dengan sistem kerja yang freelance, part time dan voulenteer, hingga pertengahan 2012 ini Majalah Kertosono sudah menerbitkan 8 edisi. Dengan teamwork management yang pas bisa dihasilkan produk fleksibel, konsisten dan variatif.

Target Pembaca

Pembaca Majalah Kertosono adalah orang-orang yang dinamis, karena mereka adalah orang-orang yang online. Mereka bisa membaca di mana saja dan kapan saja. Dan secara tidak langsung Majalah Kertosono ikut mengkampanyekan penggunaan mobile gadget dan social network secara positif. Karena membaca dan mendiskusikan ide yang ada dalam artikel jauh lebih produktif daripada sekedar chatting, narsis atau bermain game.

Majalah Kertosono adalah sebuah gerakan masyarakat dengan visi jauh ke depan. Dengan mayoritas pembaca lokal yang masih pelajar/mahasiswa dan pembaca di rantau yang mempunyai beragam profesi dan keahlian, Majalah Kertosono berusaha menjadi media yang mensinergikan keduanya agar terjadi transfer ilmu dan pengalaman.

Mitra Pendukung

Pemotretan dibantu oleh komunitas fotografi Kertosono

Dalam menjalankan misinya, Majalah Kertosono mendapat dukungan dari komunitas, organisasi, dan perusahaan yang ada di Kertosono. Diantaranya adalah:

FOKUS (Forum Komunitas Se Kertosono), dideklarasikan sebagai induk semua komunitas di Kertosono. Meski saat ini masih didominasi komunitas motor dan sepeda, tapi ke depan FOKUS akan menyatukan semua komunitas. Ini tentu akan memudahkan Majalah Kertosono untuk mengakses dan meliput lebih banyak kegiatan.

CeKerS (Cerita Tentang Kertosono dan Sekitarnya), adalah komunitas terbesar di Kertosono. Group yang berdiri pada 25 Januari 2011 ini mayoritas anggotanya adalah generasi muda yang berdomisili di Kertosono, sangat potensial untuk menjadi penggerak kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan. Pelajar SMP, SMA, Mahasiswa, Pegawai dan Pengusaha banyak yang bergabung di sini. Group CeKerS sangat aktif melakukan sharing berita harian dan diskusi-duskusi yang relevan dengan hajat hidup masyarakat.

PhoKerS (Photography Kertosono dan Sekitarnya), adalah satu-satunya komunitas fotografi di Kertosono. Semua fotografer Majalah Kertosono adalah anggota PhoKerS.

KuPerS (Kumpulan Pesepeda Kertosono dan Sekitarnya), adalah komunitas pesepeda terbesar di Kertosono. Komunitas sepeda balap, fixie, BMX, kuno dan MTB ada bagian dari KuPerS. Majalah Kertosono sebagai majalah yang sangat mendukung gerakan Go Green cukup sering berkolaborasi dengan KuPerS.

ALICE IOF (Anime Lovers Independent Crew-Indonesia Otaku Federation), adalah komunitas berskala nasional yang berpusat di Kertosono. Ini adalah kelompok remaja kreatif yang berkecimpung dalam dunia cosplay (costum player). Anggota komunitas ini ada beberapa yang bergabung dalam crew Majalah Kertosono sebagai graphic designer dan graphic ilustrator.

Sumber Dana

Majalah Kertosono tidak hidup dari iklan. Ini untuk menjaga agar isi artikel bisa tetap independen dan obyektif. Meski tidak bisa dipungkiri bahwa untuk menerbitkan sekian edisi yang sudah ada bukan tanpa biaya. Fotografi, tulisan, online, desain dan ilustrasi membutuhkan biaya yang cukup besar. Tapi semua itu bisa diatasi dengan kepedulian. Inilah satu-satunya mata uang yang berlaku. Dengan berdirinya LEMBAGA SOSIAL KERTOSONO KREASI MANDIRI sebagai badan hukum, kini Majalah Kertosono mempunyai sumber dana resmi yaitu rekening bank atas nama lembaga, agar masyarakat bisa ikut peduli dan berpartisipasi mendukung misi majalah.

Akun Bank / Bank Account


No. 2050-01-000784-53-6
BRI KCP KERTOSONO
A/n: KERTOSONO KREASI MANDIRI

Daftar Donasi

Penerbit

Logo Kertosono Kreasi Mandiri
KERTOSONO KREASI MANDIRI
Jl. P. Sudirman G5 Kertosono 64351
Mobile: +62 856 59343569
E-Mail: ety.andrijana@facebook.com
Website: kkm.kertosono.net

Hubungi Kami

REDAKSI MAJALAH KERTOSONO
Jl. P. Sudirman G5 Kertosono 64351
Facebook: /majalahkertosono
Twitter: @MjlhKertosono
E-Mail: majalah.kertosono@gmail.com
Website: kertosono.net

Archives

Categories

E-Magazine PDF Version


Arsip Majalah Kertosono Versi 1.00

Pin It on Pinterest

Shares
Share This