Pola Asuh Berbasis Keluarga

by | Apr 3, 2017 | Edisi 16, Informasi |

Penulis : Davit Adi Saputro
Ilustrasi : M. Alfin Kholili

Setiap anak memiliki proses tumbuh kembang yang unik dan tidak bisa disamaratakan. Pengasuhan yang baik oleh orang tua didukung pemenuhan fungsi-fungsi keluarga membantu anak mampu menyelesaikan tugas sesuai dengan karakteristik dan tuntutan setiap tahap perkembangan yang dilaluinya.

KERTOSONO.NET

Tidak ada yang lebih hangat dari keluarga sebagai tempat berkeluh kesah serta mencurahkan kasih sayang, begitulah harapan setiap anak yang dilahirkan di dunia ini. Sejatinya, anak adalah anugerah Tuhan yang dititipkan kepada setiap keluarga. Secara alamiah keluarga bertanggungjawab untuk mengasuh serta membesarkan anak dengan baik. Di dalamnya, seorang anak berhak untuk hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.

Setiap anak memiliki proses tumbuh kembang yang unik dan tidak bisa disamaratakan. Anak yang sehat baik secara fisik maupun mental akan dapat menyelesaikan tugas sesuai dengan karakteristik dan tuntutan setiap tahap perkembangan yang dilaluinya. Di sisi lain, beberapa anak tidak berhasil menyelesaikan tahapan perkembangan tersebut dan menyebabkan munculnya perilaku berbeda, serta terkategorikan sebagai perilaku anak bermasalah.

Berbagai gangguan perilaku bisa dialami oleh anak jika tahapan perkembangannya tidak terpenuhi secara wajar, di antaranya:

1. Gangguan Pemusatan Perhatian/Hiperaktif (GPPH)
Pada kondisi ini, anak tidak mampu mengatur dan mengendalikan perhatian serta perilakunya. Dalam kehidupan sehari-hari, anak dengan GPPH cenderung tidak fokus pada hal-hal yang bersifat rutin. Dampaknya, anak kurang dapat menuntaskan pekerjaan baik di bidang akademik maupun non akademik. Anak dengan GPPH akan bertindak sebelum berpikir, sehingga kontrol terhadap dirinya berkurang dan mengakibatkan rawan cedera.

2. Gangguan perilaku
Merupakan kondisi anak yang perilakunya melanggar hak-hak orang lain serta norma-norma sosial. Anak dengan gangguan perilaku umumnya akan bersikap agresif dan keji terhadap lingkungan sekitar. Contoh kasus lain adalah merusak kepemilikan orang lain, berkelahi, mencuri, tindakan pelecehan seksual, dan perilaku pelanggaran lainnya yang tidak sewajarnya. Gangguan perilaku inilah yang rawan mengakibatkan anak berhadapan dengan hukum (ABH).

Anak berhadapan dengan hukum (ABH) adalah anak yang berkonflik dengan hukum, anak yang menjadi korban tindak pidana, dan anak yang menjadi saksi tindak pidana. Seseorang dikategorikan ‘anak’ jika berusia antara 12 sampai 18 tahun. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi munculnya permasalahan ABH, di antaranya :

1. Keluarga
Bagaimanapun, tempat paling nyaman bagi anak adalah keluarga. Namun, tidak semua keluarga mampu menjalankan perannya sebagai rujukan bagi anak untuk mendapatkan kasih sayang. Konflik dalam keluarga memberi impact besar pada proses tumbuh kembang anak. Hubungan yang kurang harmonis, pengawasan orang tua yang rendah, serta pola asuh otoriter membuat anak tumbuh dan berkembang tanpa arahan yang tepat.

2. Sekolah
Menjadi rumah ke dua, di mana kegiatan belajar mengajar berlangsung membentuk kepribadian anak untuk menjalani masa depan sesuai yang diinginkan. Namun, tidak jarang terdapat perilaku bolos yang menjadi imbas dari kurangnya motivasi anak untuk sekolah. Hal tersebut dipengaruhi oleh; prestasi yang buruk, konflik dengan guru, gaya pengajaran yang tidak demokratis, dan iklim sekolah yang kurang mendukung.

3. Teman sebaya (Peer Groups)
Bergaul adalah cara anak bersosialisasi dengan lingkungan. Namun, anak perlu diberi wawasan dalam memilih teman bergaul. Dalam beberapa kasus, salah pergaulan mengarahkan anak pada tindakan pengisian waktu luang yang tidak tepat, seperti; merokok, minum-minuman keras, melihat konten porno, tawuran, serta penyalahgunaan narkotika.

Hal inilah yang perlu menjadi perhatian bagi orang tua untuk mengenali kondisi anak sebagai bagian dari proses pengasuhan. Menyadari keluarga adalah lingkungan yang berperan terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak, maka peran orang tua secara umum melekat dalam fungsi keluarga sebagai berikut :

a. Fungsi ekonomi/produksi
Keluarga memiliki andil untuk memenuhi kebutuhan setiap anggota keluarganya. Dalam hal ini, menjadi keharusan bagi orang tua untuk memiliki pekerjaan atau usaha yang produktif guna terlaksananya pemenuhan kebutuhan tersebut.

b. Fungsi perlindungan
Fungsi perlindungan adalah upaya keluarga untuk menciptakan lingkungan rumah yang nyaman bagi seluruh keluarga, baik secara fisik, emosi maupun sosial. Ada beragam contoh kegiatan perlindungan keluarga, misalnya; memberikan selimut kepada anak ketika kedinginan, menjauhkan benda-benda berbahaya dari jangkauan anak, memberikan jaminan rasa aman ketika anak ketakutan, menjaga anak agar terhindar dari bahaya tindakan kekerasan dari lingkungan, dan tindakan yang mengancam diri anak lainnya.

c. Fungsi pendidikan
Keluarga merupakan lembaga dasar dalam proses memberikan pendidikan non formal bagi anak. Sekaligus sebagai lingkungan yang pertama kali memperkenalkan nilai dan norma sosial. Selanjutnya, keluarga berkewajiban memfasilitasi anak agar mendapat akses pendidikan dengan mengirimkan mereka pada lembaga pendidikan formal.

d. Fungsi sebagai pusat kegiatan religius
Yaitu peran dalam mengenalkan nilai dan norma agama kepada anak sesuai dengan kepercayaan yang dianut oleh keluarga. Anak belajar melaksanakan ajaran – ajaran agama melalui bimbingan serta tuntunan dari lingkungan keluarga. Kegiatan pengenalan agama ini bertujuan untuk mengembangkan moral anak, sehingga nantinya anak tumbuh dan berkembang disertai moral yang luhur. Orang tua berperan sebagai guru agama yang mengorganisir dan memfasilitasi kegiatan – kegiatan keagamaan di rumah.

e. Fungsi rekreasional
Keluarga mempunyai fungsi menciptakan suasana menyenangkan melalui kegiatan rekreasi, di dalam maupun di luar rumah. Kegiatan rekreasi tersebut menunjang pembentukan karakter anak, juga mampu mengembangkan ketangkasan, keterampilan, serta kreativitas anak.

f. Fungsi pengakuan terhadap status
Anak membutuhkan pengakuan atas keberadaan atau statusnya. Keluarga merupakan lingkungan sosial pertama yang berfungsi untuk memberikan pengakuan terhadap status tersebut. Pengakuan terhadap status anak akan membangun harga diri yang membuat mereka merasa berharga ketika keluarga berhasil memberikan pengakuan. Selain pengakuan terhadap status anak, keluarga juga berfungsi untuk memberikan pengakuan atas pencapaian prestasi yang berhubungan dengan harga diri dan perasaan berharga anak.

g. Fungsi afeksional
Fungsi afeksional adalah fungsi untuk pemenuhan kebutuhan akan kasih sayang. Keluarga memberikan perhatian, kasih sayang, dan cinta kasih kepada semua anggota keluarganya. Keluarga juga dituntut berperan sebagai penyedia kasih sayang dan dapat membaginya secara adil dan merata kepada semua anggota keluarga.

Terpenuhinya fungsi-fungsi berbasis keluarga ini diharapkan mampu mencegah munculnya permasalahan pada anak. Keberhasilan anak dalam melewati tugas dan tuntutan setiap tahap perkembangannya tak lepas dari peran keluarga. Keluarga yang demokratis memberi kesempatan pada anak lebih terbuka dengan situasi yang dihadapinya, sehingga keluarga bisa mengetahui masalah anak sejak dini serta mampu membantu anak menyelesaikan masalah tersebut.

Sumber: Pedoman Rehabilitasi Sosial Anak Yang Berhadapan Dengan Hukum Berbasis Keluarga.

Archives

Categories

E-Magazine PDF Version


Arsip Majalah Kertosono Versi 1.00

Susunan Redaksi Majalah Kertosono Edisi 16. Editor in Chief: Davit Adi Saputro. Senior Editor: Kusdianto, Ety Andrijana, Faizal Ansyori, Difana Jauharin. Managing Editor: Livia Alvita. Editor: Tamaya Aristalia Arlini, Halimatus Sya’dyyah, Eva Nurohmah. Digital Marketing Executive: Moh. Alfin Kholily. Art Director: Fariz R. Wijaya. Web Developer: Moch. Cholil Hamzah. Fotografi: PhoKerS. ALAMAT REDAKSI: Jl. P. Sudirman G5 Kertosono 64351 Phone : +62358-555640. PENERBIT: KERTOSONO KREASI MANDIRI (http://kkm.kertosono.net). AKUN BANK/BANK ACCOUNT: No. 2050-01-000784-53-6 BRI KCP KERTOSONO A/n: KERTOSONO KREASI MANDIRI

Pin It on Pinterest

Shares
Share This