OPSI PENGOLAHAN SAMPAH

by | Sep 10, 2016 | Edisi 15, Sosial Budaya | 0 comments

Rubrik : Sosial Budaya
Penulis : Davit Adi Saputro

Beragam upaya dapat direalisasikan untuk menciptakan kondisi lingkungan yang bersih dan nyaman. Dimulai dengan menyadari pentingnya hidup sehat bagi diri sendiri dan lingkungan terdekat.

gambar-opsi-pengolahan-sampah-aKERTOSONO.NET
Sampah begitu akrab dengan kehidupan masyarakat. Hampir di setiap aktivitas manusia, berpotensi menghasilkan sampah. Mulai dari rumah tangga, pasar, pun industri berskala kecil hingga besar turut menyumbang kuota sampah di tiap daerah. Belum tersedianya sarana dan prasarana pengolahan, menjadikan sampah sebagai momok yang menakutkan.

Di sisi lain, kebiasaan masyarakat yang kurang peduli terhadap kebersihan lingkungan, membuat sampah semakin tak terkendali. Lahan masyarakat perkotaan yang terbatas menjadi alasan penanganan sampah rumah tangga mengalami kendala. Akhirnya, kebiasaan membuang sampah di sembarang tempat menjadi rutinitas yang dianggap wajar.

Kurang tersedianya tempat sampah di sebagian area publik juga menyebabkan sampah tak tertampung dengan baik. Padahal area publik erat kaitannya dengan aktivitas masyarakat. Alhasil pemandangan sampah mudah terlihat di sepanjang jalan, taman, bantaran sungai, bahkan menggenang di aliran sungai.

Ahmad Fauzan, Koordinator UPTD Tata Ruang dan Kecipta Karyaan Kecamatan Kertosono, menyayangkan kebiasaan masyarakat yang membuang sampah di sembarang tempat, khususnya masyarakat di wilayah perkotaan.

Banjir di sebagian Jalan A. Yani dan Jalan Supriyadi Kertosono disinyalir terjadi karena kebisaan masyarakat yang membuang sampah di sungai. ”Dulu ada papan larangan membuang sampah di sepanjang jalan (Jalan A. Yani, red), tapi dicopot oleh oknum tidak bertanggungjawab,” ungkap Fauzan.

Larangan membuang sampah di sembarang tempat telah diatur dalam Perda Kabupaten Nganjuk nomor 1 tahun 2015 tentang pengelolaan sampah. Sanksi teguran hingga pembinaan oleh pihak terkait menjadi konsekuensi bagi oknum yang melanggar.

Dalam sehari lebih dari 12 kubik sampah dihasilkan masyarakat Kertosono. Ahmad Fauzan juga menambahkan, belum ada pengolahan sampah terpadu di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kertosono. Tumpukan sampah sebatas diratakan kemudian dibuatkan galian baru untuk menampung sampah, begitu seterusnya. ”Dulu ada alat pengolahan sampah dari pusat, karena keterbatasan tenaga pengoperasian, alat tersebut dikembalikan ke Nganjuk,” imbuh Fauzan.

Beberapa tahun belakangan, pemerintah maupun swasta gencar menggiatkan program-program berbasis ramah lingkungan (reduse, reuse, recycle, replace). Kegiatan berbasis ramah lingkungan dinilai mampu menjaga kelangsungan ekosistem dan kehidupan di masa mendatang. Namun, kurangnya peran serta masyarakat menjadikan program-program ini belum menuai hasil signifikan. Diperlukan konsistensi dan andil bersama untuk mencapai hasil yang diharapkan.

Masyarakat dituntut proaktif, reaktif, dan inovatif dalam menangani sampah mulai dari lingkungan terdekat. Di beberapa kota besar misalnya, bank sampah marak didirikan oleh kelompok masyarakat untuk mengelola sampah dari setiap anggotanya. Selain mampu mengelola sampah secara mandiri, juga menghasilkan pundi-pundi uang untuk menambah kebutuhan hidup sehari-hari anggotanya.

Sebagian lain masyarakat mendaur ulang sampah non organik menjadi barang tepat guna. Beragam kerajian dihasilkan dari proses daur ulang sampah: tas, asesoris, lampion dan banyak produk lain yang memiliki nilai jual.

Pengintegerasian sampah dari tempat pembuangan sementara hingga ke tempat pembuangan akhir bisa menjadi opsi paling praktis bagi masyarakat perkotaan. Dengan membayar iuran bulanan, setiap warga akan mendapat jasa pelayanan angkut sampah setiap harinya.

Penanganan hingga pengolahan sampah masih menjadi tugas berat bersama antara masyarakat, pemerintah, maupun stakeholder. Oleh karenanya, diperlukan sinergi yang berkesinambungan guna menjadikan sebuah daerah bebas dari sampah yang tidak terkelola dengan baik.

Archives

Categories

E-Magazine PDF Version


Arsip Majalah Kertosono Versi 1.00

Susunan Redaksi Majalah Kertosono Edisi 15. Editor in Chief: Firdaus Effendy. Senior Editor: Kusdianto, Ety Andrijana, Faizal Ansyori, Difana Jauharin. Managing Editor: Davit Adi Saputro. Editor: Livia Alvita, Tamaya Aristalia Arlini, Halimatus Sya’dyyah, Eva Nurohmah. Digital Marketing Executive: Moh. Alvin Kholily. Art Director: Fariz R. Wijaya. Web Developer: Moch. Cholil Hamzah. Fotografi: PhoKerS. ALAMAT REDAKSI: Jl. P. Sudirman G5 Kertosono 64351. PENERBIT: KERTOSONO KREASI MANDIRI (http://kkm.kertosono.net). AKUN BANK/BANK ACCOUNT: No. 2050-01-000784-53-6 BRI KCP KERTOSONO A/n: KERTOSONO KREASI MANDIRI

Pin It on Pinterest

Shares
Share This