Menggendong Dengan Benar, Nyaman, dan Aman

by | Jan 2, 2018 | edukasi, Non Edisi |

Penulis: Halimatus Sya’dyyah
Fotografer: Halimatus Sya’dyyah
Ibu muda kerap menghadapi kekhawatiran tentang mitos seputar menggendong. Anggapan bahwa anak menjadi ‘bau tangan’ dan tumbuh sebagai pribadi yang rewel serta manja sering dilontarkan oleh yang lebih berpengalaman sebagai orang tua. Faktanya, tidaklah demikian.

KERTOSONO.NET
“Anak tidak akan menjadi manja karena sering digendong. Selalu dekat dengan orang tua atau pengasuh adalah salah satu kebutuhan dasar anak. Jika kebutuhan dasarnya telah terpenuhi maka saat dewasa akan tumbuh menjadi pribadi yang mandiri. Sebaliknya, ketika kedekatan orang tua dan anak kurang terjalin, ia akan tumbuh sebagai pribadi yang suka mencari perhatian dan berulah.” Ungkap Inggrid Damayanty Thomas, consultant dari School of Babywearing UK.

Banyak manfaat digendong bagi bayi selain mendekatkannya dengan orang tua, yaitu; mempercepat proses belajar berbicara, melatih koordinasi sistem keseimbangan, dan membuatnya lebih tenang. Manfaat tersebut dapat dimaksimalkan jika menggendong dilakukan dengan benar, nyaman, dan aman.

Pada prinsipnya, menggendong dengan benar adalah tubuh bayi tegak (upright) menghadap ibu. Gendongan menyokong tubuh bayi dari lutut ke lutut dengan paha diposisikan lebih tinggi dari pantat membentuk huruf M (M- shape). Posisi ini seringkali dicemooh karena dikhawatirkan bayi berjalan mengangkang saat besar. Menanggapi hal ini, Inggrid menjelaskan, “Bayi sehat tidak terlahir dengan kaki yang lurus, bisa dilihat saat ia tidur. Oleh karena itu, penggunaan gendongan sebaiknya disesuaikan dengan anatomi alami bayi.

Untuk bayi baru lahir hingga tiga bulan punggung bayi melengkung memeluk ibu membentuk huruf C (C-shape) jika dilihat dari samping. Posisi ini memberi kesempatan intervertebral discs pada ruas tulang punggung bayi berkembang dengan optimal. Intervertebral discs adalah penyusun antara seperempat-sepertiga dari total panjang tulang punggung, berupa gel berbentuk cincin yang terletak diantara ruas tulang punggung, dan akan melunak ketika bayi beristirahat. Bayi diatas tiga bulan atau saat sudah memiliki kemampuan menyangga kepalanya dengan baik dapat digendong dengan bentuk J (J-shape).

Menggendong dengan posisi berbaring (craddle carry) disarankan untuk bayi yang lahir dengan kelainan jantung. Bayi tersebut apabila digendong dengan posisi upright justru akan memberikan tekanan pada dadanya. Posisi menggendong ini memiliki beberapa syarat, yaitu kaki tidak dipaksa untuk lurus dan rapat karena berbahaya bagi ligamen. Dianjurkan untuk tidak memasukkan seluruh kaki bayi dan kepalanya ke dalam kain gendongan. Ibu juga harus mewaspadai kepala yang melebihi siku luar ibu. “Sebab pernah melihat ada teman yang bayinya empat bulan digendong craddle saat tidur, kepalanya terbentur pintu ketika mamanya akan masuk restoran.” ujar Inggrid dalam salah satu kesempatan Kulwap (Kuliah Whats App).

Banyak ibu beralih dari jarik ke gendongan modern dengan alasan lebih nyaman. Padahal, jika mengetahui caranya, jarik dapat digunakan untuk menggendong tanpa terasa pegal pada pundak dan lengan, bahkan bisa handsfree. Salah satunya adalah dengan menggunakan simpul jangkar. Simpul ini kuat menopang berat bayi sekaligus mudah diatur sesuai kenyamanan ibu. Bagian kain yang di pundak dibuat melebar sehingga beban menyebar dan tidak terasa menggigit.

Apabila ibu tetap ingin menggunakan gendongan instan agar praktis dan mudah, baiknya gendongan yang dipilih memenuhi syarat TICKS. Standar tersebut digagas oleh Babywearing School, sekolah menggendong skala Internasional. TICKS sudah diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia oleh Inggrid menjadi CEK!MP(3) yaitu; cek terlebih dahulu kain yang digunakan, apakah terdapat sobek atau sisi tajam. Panduan berikutnya adalah MP3; melihat, mencium, mendekap aman, pakaian nyaman, pernafasan aman, dan punggung tertopang.

Ada pula gendongan yang dilarang untuk digunakan, misalnya; narrow-based carrier dan gendongan KW. Gendongan dengan tumpuan yang sempit, narrow-based carrier tidak disarankan karena dalam posisi digendong, berat tubuh bayi akan bertumpu pada kelaminnya, hal ini berbahaya dan rawan cedera. Sedangkan gendongan KW tidak aman dalam segi bahan maupun jahitan.

Ilmu tentang menggendong benar, nyaman, dan aman dapat diperoleh dari mana saja. Namun, tentu lebih menyenangkan bila belajar langsung oleh ibu- ibu yang kompeten dan mempunyai jam terbang tinggi yang tergabung dalam Kediri Babywearers. Komunitas ini mengadakan kopdar setiap bulan, juga kulwap bila ada kesempatan. Beragam jenis gendongan dari berbagai merk dipinjamkan selama kopdar untuk para ibu yang ingin merasakan sensasi berbeda saat menggendong buah hati. Meski demikian, Kediri Babywearers sepenuhnya untuk mengedukasi bukan sekedar mengajak orang tua membeli gendongan baru.

Archives

Categories

E-Magazine PDF Version


Arsip Majalah Kertosono Versi 1.00

Susunan Redaksi Majalah Kertosono Edisi 16. Editor in Chief: Davit Adi Saputro. Senior Editor: Kusdianto, Ety Andrijana, Faizal Ansyori, Difana Jauharin. Managing Editor: Livia Alvita. Editor: Tamaya Aristalia Arlini, Halimatus Sya’dyyah, Eva Nurohmah. Digital Marketing Executive: Moh. Alfin Kholily. Art Director: Fariz R. Wijaya. Web Developer: Moch. Cholil Hamzah. Fotografi: PhoKerS. ALAMAT REDAKSI: Jl. P. Sudirman G5 Kertosono 64351 Phone : +62358-555640. PENERBIT: KERTOSONO KREASI MANDIRI (http://kkm.kertosono.net). AKUN BANK/BANK ACCOUNT: No. 2050-01-000784-53-6 BRI KCP KERTOSONO A/n: KERTOSONO KREASI MANDIRI

Pin It on Pinterest

Shares
Share This