Lima Belas Tahun Terminal Kertosono “Mati Suri”

by | Mar 6, 2016 | Edisi 15, Reportase & Feature | 0 comments

LAPORAN UTAMA
Penulis: Firdaus Effendy

Di ujung musim kemarau 2015, bangunan terminal yang sudah tidak layak akhirnya dibuldozer rata dengan tanah. Penggusuran ini sempat memicu tuntutan dari beberapa warga yang menamakan dirinya Forum Masyarakat Peduli Kertosono (FORMAPKER), terutama setelah tercium indikasi ketidakjelasan rencana relokasi terminal pengganti.

Gambar Terminal Kertosono B

KERTOSONO.NET – Sebagai kota kecil, Kertosono terbilang unik. Meski statusnya kecamatan namun memiliki dua fasilitas umum setingkat kabupaten, yakni RSUD dan Stasiun Besar Kereta Api.Kertosono juga pernah memiliki terminal bus yang signifikan, karena menjadi tempat transit penumpang bus rute Surabaya menuju jalur selatan (Kediri, Trenggalek, Blitar, Tulungagung) dan jalur barat (Ponorogo, Madiun, Solo, Jogja).

Di masa jayanya terminal Kertosono sangat sibuk, melebihi terminal di Ibu Kota Kabupaten Nganjuk. Namun kejayaan itu tidak sempat menggapai abad millenium. Terminal Kertosono dinilai sudah tidak sanggup lagi melayani penumpang yang semakin membludak. Perluasan tidak dimungkinkan, karena lahan yang terbatas. Lokasi yang berdekatan dengan pintu masuk Kabupaten Nganjuk juga dikhawatirkan akan mengganggu arus lalu lintas.

Masalah ini mendorong munculnya kebijakan Pemda Nganjuk untuk memindahkan terminal ke lokasi baru. Pada tahun 2000 berdirilah terminal baru tipe B di Desa Kepuh. Meski letaknya strategis pembangunannya terbilang gagal, karena di tahun yang sama Kabupaten Kediri juga membangun terminal tipe B di Kecamatan Purwoasri untuk melayani bus-bus jurusan Kediri, Trenggalek, Blitar dan Tulungagung.

Lima belas tahun berlalu Terminal Kertosono terkesan kumuh dan tidak terawat, hanya beberapa bus yang dipaksa masuk oleh petugas jaga Dishubkominfo. Saat malam praktis tidak ada bus yang masuk, terminal menjadi sepi dan kurang penerangan. Sudah tepat jika terminal dirobohkan dan dibangun RSUD baru.

Relokasi terminal menjadi RSUD baru dinilai tepat, karena diperkirakan beberapa tahun ke depan RSUD yang ada sudah tidak sanggup lagi menampung ledakan pasien. Namun Terminal Kertosono harus tetap dibangun demi memenuhi kebutuhan tranportasi masyarakat.

“Saya mendapat informasi langsung dari Dishub bahwa terminal akan direlokasi ke ujung Jalan Ahmad Yani,” kata Bambang Iswantono mewakili FORMAPKER saat sesi tanya jawab bersama instansi terkait di Pendopo Kecamatan Kertosono (Jumat, 18/11/2015). “Katanya terminal dibangun lebih dulu, baru rumah sakit. Lantas kenapa tiba-tiba dibangun rumah sakit dulu? Di mana terminalnya?” tanya Bambang lebih lanjut.

Faktanya selama ini penumpang bus keleleran di sekitar perempatan lampu merah Kertosono. “Kami coba mengamati di lampu merah, kadang pagi kadang sore, kami sendiri juga sering bepergian ke luar kota. Sulit untuk menyetop bis, harus kejar-kejaran,” kata Bambang. “Dan ini bukan pengalaman kami sendiri, ternyata orang lain juga mengalami,” lanjut Bambang Iswantono.

Acara sesi tanya jawab dimoderatori oleh Camat Kertosono Eko Sutrisno. Dihadiri muspika, FORMAPKER, beberapa komunitas dan tokoh masyarakat. Hadir juga Kepala Dishubkominfo Kabupaten Nganjuk Hendro Djoko S. sebagai salah satu narasumber. Sayangnya narasumber kunci, yakni Kepala Bappeda berhalangan hadir.

Menurut penuturan Hendro, Bappeda sudah menyusun studi kelayakan dan AMDAL (Analisis Dampak Lingkungan) sejak tahun 2014. “Dinas Perhubungan saat itu mendapat tugas menyusun DED atau Detailed Engineering Design terkait rencana relokasi terminal,” katanya. Karena bersinggungan dengan wilayah jalan nasional maka Dishubkominfo juga berkoordinasi dengan BP2JN (Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional) Wilayah V. Koordinasi lintas sektoral tersebut berhasil membuat perencanaan di tahun 2015 dan bahkan sudah dianggarkan.

Sesuai DED memang diputuskan terminal akan direlokasi ke Jalan Ahmad Yani, menggusur kantor kecamatan lama. “Bahkan ruang terbuka hijau di belakang pos polisi akan dipakai juga, karena butuh lahan lebih luas,” kata Hendro. Ketika semua dokumen sudah disusun dan disiapkan, terbit Permenhub 75 tahun 2015 yang menyebutkan bahwa setiap bangunan yang terkait dengan kelalu-lintasan diwajibkan untuk menyusun dokumen ANDALALIN (Analisis Dampak Lalu Lintas).

“Sedangkan yang dibuat Bappeda saat itu ternyata sekedar rekayasa pengaturan lalu lintas, belum merupakan dokumen ANDALALIN,” ungkap Hendro. Permasalahan menjadi semakin berat karena menurut Permenhub, untuk mengesahkan ANDALALIN yang bersinggungan dengan jalan nasional tidak cukup dilakukan oleh perangkat daerah.

Stakeholder yang berwenang adalah Kementrian PU menyangkut jalan nasional, Kementrian Perhubungan menyangkut jalan yang menghubungkan antar provinsi, dan Kepolisian. Dengan berbagai pertimbangan terkait kendala belum siapnya dokumen ANDALALIN, maka diputuskan untuk menunda pembangunan terminal. “Untuk kelanjutannya Bappeda akan menyusun lagi studi kelayakan yang akan dibahas di PAK (Perubahan Anggaran Keuangan, red) tahun 2015,” kata Hendro mengakhiri penjelasannya.

Ditemui FORMAPKER di ruang kerjanya, Kepala Bappeda Bambang Eko S. membenarkan tentang ditundanya pembangunan terminal tersebut, terkait dengan belum adanya dokumen ANDALALIN. “Di tahun 2015 ini sudah kami anggarkan lagi sebesar 6 miliar untuk dilaksanakan pembangunannya (terminal, red) tahun 2016,” kata Bambang Eko mengawali pembicaraan.

Oleh banggar (Badan Anggaran, red) angka tersebut dinilai setengah-setengah sehingga sempat dinaikkan menjadi 10 miliar. Namun di tengah pembahasan turun lagi menjadi 6 miliar, hingga 3 miliar. Bahkan setelah didok, anggaran untuk terminal tersebut tidak ada. “Secara normatif sudah tidak bisa, meski bisa itupun sulit, ya kita berdoa saja sebelum dibawa ke provinsi, kita tunggu kepastiannya tiga hari lagi,” ungkap Bambang Eko.

rencana RS Kertosono Nganjuk

rencana RS Kertosono Nganjuk

Pada hari yang dijanjikan beberapa wakil FORMAPKER datang lagi menemui Kepala Bappeda dan sekda untuk menagih kepastian tentang Terminal Kertosono. Ditemui di ruang sekda, tanpa prolog yang panjang lebar Bambang Eko segera menyampaikan kabar gembira, “Patut bersyukur, Kertosono akan punya terminal lagi. Dan hari ini tanggal 10 Desember 2015 jam 11:38 bisa dinyatakan sebagai hari jadi Terminal Kertosono,” kata Bambang Eko.

Archives

Categories

E-Magazine PDF Version


Arsip Majalah Kertosono Versi 1.00

Susunan Redaksi Majalah Kertosono Edisi 15. Editor in Chief: Firdaus Effendy. Senior Editor: Kusdianto, Ety Andrijana, Faizal Ansyori, Difana Jauharin. Managing Editor: Davit Adi Saputro. Editor: Livia Alvita, Tamaya Aristalia Arlini, Halimatus Sya’dyyah, Eva Nurohmah. Digital Marketing Executive: Moh. Alvin Kholily. Art Director: Fariz R. Wijaya. Web Developer: Moch. Cholil Hamzah. Fotografi: PhoKerS. ALAMAT REDAKSI: Jl. P. Sudirman G5 Kertosono 64351. PENERBIT: KERTOSONO KREASI MANDIRI (http://kkm.kertosono.net). AKUN BANK/BANK ACCOUNT: No. 2050-01-000784-53-6 BRI KCP KERTOSONO A/n: KERTOSONO KREASI MANDIRI

Pin It on Pinterest

Shares
Share This