Lampu Candu

by | Oct 4, 2016 | Fiksi | 0 comments

Oleh : Davit Adi Saputro
Ilustrasi : Moh. Alfin K

lampu-candu

“Dok… dok… dok…” kaca jendela angkot diketok sesampai di Jalan R. A Martadinata.

“Kiri mas!” begitu pinta Ramzi.

Angkot menepi, Ramzi berjalan setengah menunduk menyusuri kabin yang penuh sesak. Sampai di pintu angkot, angin segar menyapu wajahnya. Vantofel hitam menyapa aspal tepat saat angkot berhenti dan kemudian berlalu.

Langkah Ramzi menjejaki zebra cross. Klakson berisik diselingi umpatan, seolah tak mengijinkan pejalan kaki sepertinya berada di jalan walau sebentar.

“Dasar wong ora sabar, kalian pikir jalan iki nggone mbahmu!” hatinya menggumam.

Bukan hal sulit menemui orang-orang dengan logat asing layaknya Ramzi. Orang awam dengan mudah mengenali pendatang dan penduduk lokal hanya dari cara berbicara. Orang-orang berdatangan dari berbagai penjuru, menambah padat kota ini. Kaum urban memandangnya sebagai ladang uang, Ramzi salah satunya.

Selepas kuliah teknik sipil, Ramzi bekerja di perusahaan konstruksi. Kantornya tak jauh dari Jalan R. A Martadinata, dua kali pindah angkot untuk sampai. Angkot yang tak pernah sepi penumpang di sore hari, sesumpelan saling himpit membawa penumpangnya ke tujuan masing- masing.

Sampai di seberang jalan, langkahnya menyisir trotoar menuju tempatnya biasa duduk. Bangku yang sama di antara lebih dari selusin bangku serupa berjajar di Jalan R. A Martadinata. Entah apa yang membuatnya tergila-gila pada kursi besi itu, meski warnanya memudar disepuh waktu.

Di bangku itu, setiap sore Ramzi datang untuk menghabiskan waktu hingga malam. Ramzi sudah akan ada di sana sebelum menjelang petang. Seperti telah terikat janji pada seorang kekasih, yang akan muram wajahnya begitu dia terlambat datang. Tak pernah ia lewatkan sehari pun tanpa suasana yang sama. Sekedar duduk menikmati ramai oleh kendaraan dan orang-orang yang berjalan tergesa.

Ia masih dengan pakaian rapi sepulang kerja. Tas yang membebani pundak ia letakan perlahan. Tangannya melonggarkan dasi yang rapat memeluk kerah, membiarkan lehernya sedikit lega. Matanya berlarian mengikuti orang yang lalu lalang dengan wewangian keringat. Sore menjadi waktu yang padat bagi jalanan untuk melayani orang-orang dengan segudang kepentingan.

Jalanan berangsur ramai oleh kendaraan. Tak mau kehilangan waktu, motor-motor berjejal di antara mobil yang berbaris. Asap knalpot mengebul bersama debu yang beterbangan dilindas roda kendaraan. Udara tak lagi bersih.

“Hhhhh…”
Ramzi menghela nafas untuk melepas penat. Punggungnya bersandar pada bangku. Tangannya meraih saku, mengeluarkan sapu tangan. Diusapnya wajah yang kusam terpapar asap knalpot. Matanya dikucek bergantian, mengusir sepat oleh debu.

Matahari beranjak meninggalkan senja. Lampu di seberang Jalan R. A Martadinata merona sempurna, membiaskan warna jingga pada apapun yang berlalu di bawahnya. Siapapun yang tersinari menjadi lebih bersemangat, bagai candu bagi pecinta kesibukan.

Orang-orang berjalan cepat memenuhi trotoar seolah ada yang mengejar. Sebagiannya dengan segala cara menutup hidung dan mulut dari asap juga debu. Kedai kopi, yang letaknya memakan badan trotoar, tengah ramai pembeli. Di dalamnya, bangku panjang telah dijejali penikmat kopi, tungku terus membara mendidihkan air. Aroma kopi menggodai pejalan kaki untuk mampir.

Kemacetan menemui puncaknya. Deru mesin dan klakson menyanyikan musik jalanan. Tak ada keramahan, saling serobot demi kepentingan, memaksa manusia menjadi apatis. Pengendara motor menjamah trotoar. Lajunya diselingi makian pejalan kaki yang kehilangan hak.

Hujan lebat turun tanpa pertanda. Ramzi berlari ke emperan toko untuk berteduh. Ia tidak sendiri, berjubel orang berebut tempat yang tak seberapa luas. Derai air hujan menghentikan hiruk pikuk di jalan. Motor-motor pun turut menepi.

Tak ada yang ingin mati dalam bosan, seseorang memancing obrolan. Ramzi hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala, saat seorang gadis muda menawarkan rokok. Lantas mengambil sebatang untuk mengusir dingin.

Angin kencang mematahkan beberapa ranting pepohonan. Menimpa lampu di seberang jalan, membuat nyalanya padam sesaat. Air turut pula mengalirkan bungkus- bungkus plastik serupa dedaunan beragam warna. Entah akan bertambat kemana.

”Kebanjiran lagi kos gue, sial!”

”Nge-kos di mana, mbak?” Ramzi ragu-ragu bertanya.

Obrolan pun mengalir. Asap keluar bersama kata-kata, gadis muda tampak aktif berbicara. Keduanya bergantian melempar topik. Sesekali, seorang pria dengan setelan putih ikut menimpali obrolan. Tawa kerap terlepas.

Begitulah hujan, ia membawa dingin, sementara obrolan membuatnya hangat. Sesaat ia menjadi jeda bagi mereka yang acuh sebelumnya. Memberi waktu terbaik yang sering terlewat karena dilahap rutinitas. Tak ada urat tegang keluar dari leher dan kepala, yang ada hanya senyum kecil terceletuk dari sela obrolan.

Sekumpulan orang bergegas kembali ke jalanan begitu hujan mereda, ke penjuru arah mereka berpencar. Air belum sepenuhnya habis, menyisakan genangan. Jalan kembali riuh, deru kendaraan bersahutan. Pengumpat tak lagi berbicara semaunya, dingin membuat kepala bisa berpikir jernih. Mobil rapi berbaris, pemotor tak sembarangan serobot, trotoar milik pejalan kaki.

”Eh, bang?” gadis muda menoleh pada Ramzi. ”Kita pernah ketemu sebelumnya, ya?” Ia tidak menjawab, hanya tersenyum dan merapatkan tas di pundak.

”Di seberang lampu ini juga sepertinya. Ah, lupa gue!” Gadis muda bergumam sembari menyalakan mesin motornya dan berlalu.

Bising kendaraan mereda ditelan malam yang kian larut. Jalanan telah lengang, hanya tersisa bekas gesekan di aspal yang makin temaram. Asap dan debu menguap bersama wewangian hujan. Lelah memaksa berhenti para pecandu kesibukan, mencari tempat beristirahat.

Sebatang ranting besar jatuh menimpa lampu jalanan yang menjadi candu. Nyalanya padam ditinggal berlalu. Ramzi sumringah, berjalan menyusuri trotoar dan hilang di persimpangan.

Archives

Categories

E-Magazine PDF Version


Arsip Majalah Kertosono Versi 1.00

Susunan Redaksi Majalah Kertosono Edisi 15. Editor in Chief: Firdaus Effendy. Senior Editor: Kusdianto, Ety Andrijana, Faizal Ansyori, Difana Jauharin. Managing Editor: Davit Adi Saputro. Editor: Livia Alvita, Tamaya Aristalia Arlini, Halimatus Sya’dyyah, Eva Nurohmah. Digital Marketing Executive: Moh. Alvin Kholily. Art Director: Fariz R. Wijaya. Web Developer: Moch. Cholil Hamzah. Fotografi: PhoKerS. ALAMAT REDAKSI: Jl. P. Sudirman G5 Kertosono 64351. PENERBIT: KERTOSONO KREASI MANDIRI (http://kkm.kertosono.net). AKUN BANK/BANK ACCOUNT: No. 2050-01-000784-53-6 BRI KCP KERTOSONO A/n: KERTOSONO KREASI MANDIRI

Pin It on Pinterest

Shares
Share This