Kurikulum Pendidikan Anti Narkoba

by | Jul 16, 2015 | Artikel Lepas, Opini | 0 comments

ARTIKEL LEPAS / NON EDISI / OPINI

Tahun 2015 ditetapkan oleh pemerintah sebagai tahun darurat narkoba. Presiden RI Joko Widodo mengatakan bahwa Indonesia berada dalam status darurat narkoba karena ada sekitar 4,5 juta pemuda pengguna narkoba tidak bisa direhabilitasi. Bahkan dampak negatif narkoba tidak hanya merasuk ke lingkungan anak-anak muda, tetapi juga institusi-institusi.

narkoba-pidana-atau-rehabilitasiDi seluruh dunia terdapat lebih dari 200 juta orang pengguna narkoba dan dari jumlah tersebut 2%-nya berada di Indonesia. Berdasarkan penelitian kerjasama BNN dengan Universitas Indonesia pada Tahun 2011 terdapat 3,7 hingga 4,7 juta penyalahguna (2,2 %) dari seluruh populasi di Indonesia merupakan pemakai narkoba, yang terdistribusi atas 27% coba pakai, 45% teratur pakai, dan 27% pecandu tidak menggunakan jarum suntik dan 2% pecandu menggunakan jarum suntik (BNNP Jatim).

Bahkan angka prevalensi penyalahgunaan narkoba dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Pada tahun 2015 diperkirakan jumlah pengguna narkoba mencapai 5,8 juta jiwa. Total kerugian akibat penyalahgunaan narkoba mencapai 48,2 triliun meliputi biaya individu dan sosial (BNNP Jatim).

Pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba tidak hanya mengandalkan upaya penegakan hukum tetapi harus diimbangi dengan upaya pengurangan permintaan. Pemberian hukuman pidana penjara atau kriminalisasi korban penyalahgunaan narkoba bukanlah merupakan solusi satu-satunya. Dan kurang bisa menyelesaikan akar permasalahan. Bahkan cenderung dapat menimbulkan masalah baru. Karena tempat rehabilitasi yang ada saat ini hanya bisa menampung 18 ribu orang sedangkan korban yang ada saat ini sebanyak 4,7 juta orang.

Penyalahgunaan narkoba sebagian besar diawali dari merokok dan minum-minuman keras. Hampir seluruh penyalahguna narkoba pernah merokok (98%) dan peminum alkohol (93%). Sebagian besar mereka memulai merokok pada usia 12 tahun dan minum alkohol pada usia 16 tahun (BNNP Jatim).

Pada usia tersebut rata-rata adalah pada masa sekolah yakni tingkat SMP dan SMA. Dari berbagai penelitian, kalangan muda merupakan kelompok yang paling rentan terhadap penyalahgunaan narkoba. Pada umumnya mereka sudah mengenal narkoba dalam rentang usia 10-19 tahun.

Data itu diperkuat oleh penelitian Program Internasional Eliminasi Pekerja Anak (IPEC) dan Organisasi Buruh Internasional (ILO) yang bernaung di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 2003. Dari hasil temuannya diketahui bahwa rata-rata seorang anak mulai mengenal narkoba sejak menginjak usia 13 tahun.

Narkoba adalah ancaman terbesar generasi bangsa ini ke depan. Narkoba ibarat penjajah tanpa wajah yang siap untuk menghancurkan negara kapan saja. Dalam rangka menanggulangi faktor-faktor berbahaya yang dapat mendorong berkembangnya penyalahgunaan narkotika maka dukungan dan keikutsertaan organisasi masyarakat maupun badan penegak hukum, badan kesehatan, sosial dan pendidikan yang terlibat dalam program pencegahan penyalahgunaan narkotika sangat diperlukan.

Dari fakta tersebut maka perlu dilakukan langkah pasti untuk mencegah semakin maraknya penyalahgunaan narkoba. Salah satu langkah yang bisa ditempuh adalah dengan mengintegrasikan materi pencegahan penyalahgunaan narkoba itu dalam kurikulum pendidikan.

Sekolah merupakan lembaga yang mempunyai potensi sangat besar untuk mempengaruhi kehidupan anak-anak sehari-hari. Sekolah yang merupakan lembaga pendidikan setidaknya mengemban 3 (tiga) fungsi, yaitu:

  • Fungsi reproduksi, bermakna eksistensi sekolah sebagai pembaharu dan mengubah kondisi masyarakat kekinian ke sosok yang lebih maju.
  • Fungsi penyadaran, bermakna sekolah bertanggung jawab untuk mempertahankan nilai-nilai budaya masyarakat dan membentuk kesejatian diri sebagai manusia.
  • Fungsi mediasi secara simultan, bermakna sekolah sebagai wahana sosialisasi, pembawa bendera moralitas, wahana proses pemanusiaan dan kemanusiaan umum, serta pembinaan idealisme sebagai manusia terpelajar.

Untuk itulah pendidikan memegang peranan penting dalam upaya membangun watak bangsa (nation character building) dan menjaga kelangsungan hidup sebuah negara bangsa (nation state). Sebagaimana yang tertuang dalam tujuan pendidikan nasional.

Sekolah menjadi lingkungan kedua setelah keluarga. Hampir sepertiga dari waktu siswa dihabiskan di sekolah, maka sangat efektif apabila sekolah peduli dengan pencegahan penyalahgunaan narkoba. Program pencegahan penyalahgunaan narkoba di sekolah merupakan salah satu strategi yang sangat penting dan harus dilaksanakan secara komprehensif yang meliputi berbagai kegiatan belajar mengajar, kegiatan intra- dan ekstrakurikuler.

Upaya pencegahan tersebut bisa dilakukan dengan mengintegrasikan materi Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) ke dalam mata pelajaran berupa pembuatan perangkat pembelajaran (Silabus, RPP, LKS dan Buku Siswa) yang memuat materi P4GN. Selain itu juga pembuatan panduan P4GN untuk guru bimbingan konseling (BK), Organisasi Intra Sekolah (OSIS), dan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) serta untuk kegiatan ekstrakurikuler (Ekskul).

Selain itu para guru-guru juga harus terpanggil untuk bersama-sama memikul tanggung jawab yang berat untuk melaksanakan program pencegahan penyalahgunaan narkoba di sekolah. Untuk siap menjadi pendidik yang mampu melakukan upaya pencegahan yang efektif, para guru perlu menguasai materi penyalahgunaan narkoba dan dapat mengintegrasikan dengan materi mata pelajaran yang diampunya. Selain itu juga perlu menggunakan teknik dan metode belajar mengajar yang menarik sesuai umur atau tingkatan sekolah.

Program pendidikan pencegahan narkoba yang efektif menggunakan proses kelompok interaktif dalam bentuk diskusi kelompok, simulasi, bermain peran, dan permainan kelompok, daripada menggunakan cara-cara tradisional yang bersifat ceramah yang kurang menarik perhatian dan partisipasi anak-anak.

Dari integrasi materi P4GN dalam kurikulum pendidikan tersebut diharapkan lingkungan sekolah akan kondusif dan bersih dari penyalahgunaan narkoba. Berawal dari lingkungan sekolah yang bersih dari narkoba diharapkan akan membawa dampak yang baik bagi lingkungan di sekitar sekolah yakni menciptakan lingkungan yang bersih narkoba.

Program pencegahan narkoba di sekolah tidak dapat berdiri sendiri. Masyarakat, termasuk orang tua siswa adalah bagian integral dari sekolah dengan segala permasalahannya. Sekolah bisa membantu para orang tua siswa untuk mencegah anak-anak mereka dari penyalahgunaan narkoba. Dengan cara mendorong para orang tua untuk mengadakan strategi-strategi pencegahan di rumah serta membentuk jaringan orang tua untuk bersama-sama mengatasi masalah penyalahgunaan narkoba.

Perlu disadari bahwa masyarakat tidak bisa serta merta menagih hasil pendidikan dengan cepat, sebab pendidikan bukanlah pabrik, tetapi pendidikan adalah upaya membentuk watak bangsa (nation character building) dan watak bangsa tidak bisa sekali jadi (taken for granted) tetapi pendidikan adalah investasi jangka panjang (long time invesment). Walau demikian setidaknya sekolah telah memulai langkah awal sebagai agen perubahan yang terlibat dalam perang melawan narkoba melalui lembaga pendidikan. No development without education and no education without teacher.

*Ditulis oleh Wijaya Kurnia Santoso, yang sekarang ini menjadi ketua Tim Penyusunan Kurikulum Anti Narkoba Tingkat SLTP BNNP Jatim dan Kepala SMP Bina Insan Mandiri Nganjuk. Selain itu juga aktif sebagai penulis buku. Follow Twitter: @wijaya_kurnia19

Archives

Categories

E-Magazine PDF Version


Arsip Majalah Kertosono Versi 1.00

Susunan Redaksi Majalah Kertosono Edisi 14. Editor in Chief: Firdaus Effendy. Senior Editor: Kusdianto, Ety Andrijana, Faizal Ansyori, Difana Jauharin. Managing Editor: Davit Adi Saputro. Editor: Livia Alvita. Digital Marketing Executive: Moh. Alvin Kholily. Art Director: Fariz R. Wijaya. Web Developer: Lian Aga Aditya. Kontributor Tulisan: Tamaya Aristalia Arlini, Tsabbit Aqdami Mukhtar, Ita Surajaya, Halimatus Sya’dyyah, Heldyana Umabella Prabasari, Cholis Tontowi, Dhawil Firdausy, Siwi Yuli Purnamasari, Eva Nurohmah. Fotografi: PhoKerS. ALAMAT REDAKSI: Jl. Merapi RT. 03 RW. 02 Ds. Tanjung Kertosono. PENERBIT: KERTOSONO KREASI MANDIRI (http://kkm.kertosono.net). AKUN BANK/BANK ACCOUNT: No. 2050-01-000784-53-6 BRI KCP KERTOSONO A/n: KERTOSONO KREASI MANDIRI

Pin It on Pinterest

Shares
Share This