KARNAVAL AGUSTUSAN Antara Tradisi dan Maknawi

by | Aug 22, 2015 | Catatan Redaksi, Edisi 15 | 0 comments

Oleh: Faizal Ansyori
Photografi: Puthut Yudha P.

Merak Karnaval

Kemeriahan, kemewahan dan keindahan, adalah hal yang tak bisa lepas dari setiap kegiatan memperingati HUT Kemerdekaan RI. Kemeriahan yang terbangun dari tingkat lingkungan desa, kecamatan, hingga ibu kota negara.

Menjelang bulan Agustus, persiapan penyelenggaraan perayaan kemerdekaan mulai dilaksanakan, diawali dengan pembentukan Panitia Hari Besar Nasional (PHBN) di tiap-tiap daerah. Dari tingkat kelurahan hingga kecamatan seakan serentak dilaksanakan.

Karnaval merupakan agenda tahunan yang rutin dilaksanakan PHBN Kertosono. Sebuah acara yang selalu dinantikan oleh masyarakat Kertosono dan sekitarnya. Meskipun di tahun 2011-2012 karnaval ini sempat vakum, dikarenakan bersamaan dengan bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri.

Jika mengingat kembali pada era 90-an, peserta karnaval diikuti oleh semua pelajar. Mulai dari tingkat Taman Kanak-kanak sampai dengan SMA dan masyarakat dari tiap desa se-Kecamatan Kertosono. Karnaval umum menjadi acara paling populer, karena menampilkan berbagai kesenian tradisional dan kreativitas masyarakat lokal, dengan berbekal bahan serta perlengkapan yang dibuat masing-masing peserta.

Beragam tema dan beragam pakaian tradisional daerah menghiasi arak-arakan karnaval, dengan perjalanan yang ditempuh sejauh kurang lebih lima kilometer. Pakaian adat yang menggambarkan ke-Bhinneka Tunggal Ika-an, perjuangan, pelajar, profesi, hingga kesenian daerah turut ambil bagian.

Sayangnya beberapa tahun terakhir ini, konsep yang dulu menggambarkan suasana yang merakyat, sederhana dan meriah, sedikit demi sedikit mengalami perubahan. Karnaval yang menjadi agenda rutin PHBN Kertosono ini kemudian hanya diikuti dari kategori pelajar saja. Entah karena alasan apa, hingga diputuskan partisipasi dari desa tidak dilibatkan. Ironisnya saat ini kegiatan karnaval tersebut terkesan mewah, penggunaan biayapun tidak murah. Arak-arakan karnaval kini dipenuhi pawai mobil dengan penumpang yang didandani glamor, berjubel becak hias, dokar hias, sepeda hias dan berbagai hiasan yang bervariasi. Terlihat sangat mewah, glamor, berlebihan, meninggalkan makna dari karnaval itu sendiri.

Bagi masyarakat, kegiatan karnaval yang dulunya sebagai penumbuh semangat kemerdekaan, kini bergeser menjadi ajang gengsi antar peserta. Penghayatan peran pahlawan dalam merebut kemerdekaan tidak lagi menjadi dasar pelaksanaan kegiatan karnaval dimaksud.

Sejatinya kegiatan karnaval ini bertujuan untuk dapat menumbuhkan jiwa patriotisme pada generasi muda tanpa menunjukan kemewahan dan tidak memberatkan peserta dari segi pendanaan. Berharap karnaval tahun ini dapat mengulang kembali kemeriahan yang terbangun dari rasa nasionalisme dan patriotisme sebagai tujuan dasar pelaksanaan kegiatan karnaval.

Archives

Categories

E-Magazine PDF Version


Arsip Majalah Kertosono Versi 1.00

Susunan Redaksi Majalah Kertosono Edisi 15. Editor in Chief: Firdaus Effendy. Senior Editor: Kusdianto, Ety Andrijana, Faizal Ansyori, Difana Jauharin. Managing Editor: Davit Adi Saputro. Editor: Livia Alvita, Tamaya Aristalia Arlini, Halimatus Sya’dyyah, Eva Nurohmah. Digital Marketing Executive: Moh. Alvin Kholily. Art Director: Fariz R. Wijaya. Web Developer: Moch. Cholil Hamzah. Fotografi: PhoKerS. ALAMAT REDAKSI: Jl. P. Sudirman G5 Kertosono 64351. PENERBIT: KERTOSONO KREASI MANDIRI (http://kkm.kertosono.net). AKUN BANK/BANK ACCOUNT: No. 2050-01-000784-53-6 BRI KCP KERTOSONO A/n: KERTOSONO KREASI MANDIRI

Pin It on Pinterest

Shares
Share This