Industri kolaborasi

by | Aug 20, 2017 | Edisi 16, Opini | 0 comments

Penulis : Fariz Rizky Wijaya
Ilustrasi: Fariz Rizky Wijaya

Mengandalkan kemampuan sendiri dalam membangun industri membutuhkan tenaga dan pikiran yang tak ada batasnya. Contoh, bila kita sedang merintis sebuah usaha di bidang kuliner, segala macam kebutuhan untuk menunjang dalam bisnis tersebut haruslah terpenuhi. Sebut saja tempat yang representatif, promosi yang tepat sasaran, kemasan yang baik dan lain sebagainya.

KERTOSONO.NET

Untuk mendapatkan hasil yang optimal, dibutuhkan usaha kerja yang termanajerial dengan baik. Terkadang dengan dalih efisiensi dana, semuanya dikerjakan sendiri. Mampu tidaknya dalam mengelola industri yang bukan bidangnya akan mempengaruhi sebuah hasil. Artinya, untuk mendapatkan hasil yang optimal tidak semua bidang pekerjaan dapat dikerjakan sendiri.

Kita harus menyadari bahwa perkembangan zaman bisa berubah dalam hitungan detik, karenanya kita dituntut untuk menyelesaikan segala bentuk apapun pekerjaan kita dengan lebih cepat, dan dengan hasil yang optimal. Begitu juga dengan sebuah industri, akan lebih optimal jika segala sesuatu yang tidak mampu kita kerjakan sendiri bisa dikerjakan oleh partner yang mempunyai kompetensi di bidangnya. Simbiosis mutualisme cukup tepat dipakai dalam istilah ini, karena pada dasarnya kolaborasi adalah saling memberikan keuntungan.

Kota Pekalongan dengan predikat Kota Kreatif dari UNESCO di bidang “Craft and Folk Arts” atau kerajinan dan kesenian rakyat patut menjadi contoh yang sangat tepat dalam bahasan ini. Industri batik yang berjalan di kota tersebut merupakan realita kolaborasi antara pelaku dan komunitas yang ada, serta dari pengrajin, pelukis, supplier bahan baku, distributor dan lain-lain. Hingga akhirnya motor industri di wilayah sosial berjalan secara berantai. Perekonomian di daerah pun ikut mengalir dan akhirnya mampu untuk menyejahterakan penduduknya tanpa harus mengadu nasib ke kota besar.

Di tahun 2025 nanti, direncanakan menjadi era ekonomi terbarukan atau yang disebut ekonomi kreatif. Wajib diketahui salah satu kunci keberhasilannya adalah kolaborasi. Industri kolaborasi merupakan corong ekonomi kerakyatan atas dasar gotong royong yang sebenarnya sudah tertanam sejak lama dalam kehidupan sosial Indonesia. Nantinya persaingan tidak lagi sebatas dengan kompetitor industri dalam satu negara, melainkan persaingan dengan kompetitor negara lain.

Semua industri berbondong-bondong berinovasi, dari cara konvensional ke cara yang lebih praktis atau sering disebut dengan istilah modern. Moderniasi tak lepas dari perkembangan teknologi, sedangkan teknologi adalah instrumen yang diciptakan manusia untuk memudahkan kehidupannya dalam berindustri.

Kolaborasi yang baik terbangun dari perbedaan. Misalnya, tiga orang dengan bidang yang sama tidak akan menghasilkan karya yang lebih inovatif dibandingkan gabungan dari berbagai latar belakang dan spesialis yang berbeda.

Pada akhirnya kolaborasi dalam sebuah industri terlalu sederhana jika hanya diartikan sekadar sebuah kerjasama. Kolaborasi adalah tentang sebuah kebersamaan. Kebersamaan biasanya didasari oleh kenyamanan, bukan hanya keinginan untuk bersama. Mampu memberikan nilai-nilai kebersamaan, dan mampu membangun peradaban yang tak hanya mementingkan perut sendiri.

 

Archives

Categories

E-Magazine PDF Version


Arsip Majalah Kertosono Versi 1.00

Susunan Redaksi Majalah Kertosono Edisi 16. Editor in Chief: Davit Adi Saputro. Senior Editor: Kusdianto, Ety Andrijana, Faizal Ansyori, Difana Jauharin. Managing Editor: Livia Alvita. Editor: Tamaya Aristalia Arlini, Halimatus Sya’dyyah, Eva Nurohmah. Digital Marketing Executive: Moh. Alfin Kholily. Art Director: Fariz R. Wijaya. Web Developer: Moch. Cholil Hamzah. Fotografi: PhoKerS. ALAMAT REDAKSI: Jl. P. Sudirman G5 Kertosono 64351 Phone : +62358-555640. PENERBIT: KERTOSONO KREASI MANDIRI (http://kkm.kertosono.net). AKUN BANK/BANK ACCOUNT: No. 2050-01-000784-53-6 BRI KCP KERTOSONO A/n: KERTOSONO KREASI MANDIRI

Pin It on Pinterest

Shares
Share This