(Interlude) Hati Yang Hilang

by | Dec 30, 2015 | Artikel Lepas, Fiksi | 0 comments

ARTIKEL LEPAS / NON EDISI / CERPEN


Kisah dan nama-nama tokoh dalam cerpen ini hanya fiktif. Jika ada kesamaan / kemiripan nama dan / atau kisah itu hanya kebetulan belaka.

hati-yang-hilang

(Interlude) Hati Yang Hilang

Oleh: Atita Suwito

Taman, kursi besi, majalah, langit biru, tanah lembab, udara pagi, embun, dingin, aku, baju one piece berwarna peach dengan aksen bunga serta tak lupa sweater dengan warna senada, rambut panjang bergelombang, riasan natural, wedges ankle boot, aroma parfum brandeed DKNY (Donna Karen New York) Be delicious Fress Blossom, dan kamu tak di sampingku.

Aku mendesah dengan sorot mata menatap kosong sisi kiri bangku taman tempatku duduk. Sudah 5 tahun aku mencari, dan ini kesekian kalinya aku duduk di sini tanpa kamu. Dulu dia dan lelaki bernama Theo selalu duduk berdampingan setiap pagi seusai berolahraga bersama. Telah 17 tahun mereka bersama, ya tumbuh bersama tepatnya ketika mereka sama-sama berusia 8 tahun.

Theo berasal dari keluarga Munaf. Keluarga yang sangat terkenal di daerah Kertosono, bagaimana tidak, keluarga itulah yang memiliki pabrik-pabrik besar di Kertosono, dan pengusaha mana yang tak kenal keluarga Munaf? Mungkin hanya orang yang tak berkecimpung di dunia bisnis, khususnya bisnis tekstil yang tak mengenal keluarga Munaf. Sedang aku? Dia tersenyum masam.

“Aku cuma teman kecilmu yang tak tau keadaan hatimu saat ini? Absurd memang,” mendengus kesal.

“Mungkin saat ini kamu bersama wanita yang kamu inginkan selama bertahun-tahun,” mengedarkan kedua matanya ke sekeliling taman.

Pikirannya kali ini melanglangbuana. Majalah bisnis ada di pangkuannya, dan dibiarkan begitu saja tanpa ada hasrat untuk membaca. Ada yang menarik di sampul majalah itu, “Theo Munaf”. Wanita itu cantik, dari ujung rambut hingga ujung kakinya tak ada yang tak mahal, mungkin parfumku dengannya tak sebanding. Alas kaki yang diidentikkan sebagai kasta seorang wanita itu menunjukkan kasta wanita itu sangat tinggi, bahkan mungkin tak dapat kuungguli dengan hanya diriku yang seorang pegawai redaksi di kota Bandung. Dan mirisnya saat ini aku terpaku menatap seorang lelaki yang mungkin juga tak dapat kumiliki. Jangankan memiliki, melihat dia bernapas saja sangat sulit untukku. Menatap dari sebuah ruang majalah saja membuat hatiku gusar apalagi nanti ketika kami bertatap mata secara langsung, nanti, jika saja.

Kepergianmu 5 tahun yang lalu membuat lubang hati ini semakin terbuka lebar. Sakit memang, namun apa arti diriku dibanding wanita yang 8 tahun kamu inginkan, dan 5 tahun yang lalu kamu berjuang mati-matian untuk mendapatkannya. Dengan mengorbankan perasaanku yang mungkin kamu saja tak pernah tahu. Dan sudah 5 tahun juga aku mengejarmu, ah bukan, sudah 14 tahun ini aku menginginkanmu. Dan betapa bodohnya aku yang hanya mampu berdiri di sampingmu tanpa mampu berdiri di depanmu menatap kedua matamu itu. Jika saja aku dapat mengeluh, aku akan mengeluh pada Tuhan, “mengapa dia sulit untuk kumiliki?”.

Tapi aku tak sekalipun mengeluh ketika hasratku untuk menginginkanmu kuputuskan sejak 14 tahun yang lalu, bukti? Mungkin tak perlu bukti lagi Theo, menunggu tak semudah yang kau bayangkan. Tapi mungkin ini belum apa-apa dibandingkan kerja kerasku untuk berlari ke atas menjemputmu bersanding denganku. Tapi semakin aku berada di atas, bahkan kurang sejengkal aku mampu menggapaimu, aku selalu mengurungkan niatku. Mungkin ini yang terbaik untuk tak mengetahui siapa wanita yang kau cintai sebenarnya.

Mungkin kau tak akan mengingatku. Selama 5 tahun aku mencarimu, pada tahun keempat aku mendapatkan job untuk meliputmu ah, itu hanya sebuah kebetulan Theo, tak perlu kujelaskan bagaimana aku memiliki sebuah kebetulan itu, yang saat itu berubah menjadi sebuah kesempatan untuk menemukanmu. Saat itu ah tapi maaf mungkin liputan itu baru keluar hari ini, dan maaf aku tak sanggup untuk membaca semuanya, bahkan yang tertulis dalam artikel itu adalah hasil interview-ku.

Aku menghela napas sepanjang mungkin, berusaha mengumpulkan keberanian untuk membaca artikel tentang dirimu. Kubuka majalah yang hanya kubiarkan di pangkuanku sedari tadi. Lembar demi lembar kubuka dengan senyuman masam. Kutemukan, artikelnya.

“Apa ini?” berdecak kaget.

Jari-jariku membeku, mataku melotot, mulutku mengaga. Pikiranku mulai mencerna. Dia langsung berlari dan majalah itu jatuh ke tanah. Ada sebuah pesan dalam artikel Theo Munaf, dan mungkin dia baru menyadari hari ini.

Kau mungkin bertanya seperti ini karena mungkin kamu tak memiliki keberanian secara langsung, wanita dalam 8 tahun itu adalah sister, mungkin bisa anda artikan. Ah, ya aku menunggu seseorang, mungkin sudah 15 tahun aku menunggu dia, hahahaha, klise ya? Tapi begitulah karena mungkin saya takut untuk melukai sebuah hubungan kami, dan saya akhirnya memutuskan untuk menunggu, tak tahu sampai kapan, dan atau mungkin dia berpikir bahwa dia harus naik ke atas untuk bersama, namun ketika pikirannya seperti itu, saya siap untuk turun ke bawah menjemputnya dan naik ke atas bersama saya. Hahahaha, mungkin terlalu picisan tapi itulah percintaan saya. Mungkin adakah tokoh yang harus saya jemput?.

Archives

Categories

E-Magazine PDF Version


Arsip Majalah Kertosono Versi 1.00

Susunan Redaksi Majalah Kertosono 2014-2015. Editor in Chief: Firdaus Effendy Senior Editor: Kusdianto, Ety Andrijana, Faizal Ansyori, Difana Jauharin Managing Editor: Davit Adi Saputro Editor: Livia Alvita, Tamaya Aristalia Arlini, Halimatus Sya’dyyah, Eva Nurohmah Digital Marketing Executive: Moh. Alvin Kholily Art Director: Fariz R. Wijaya Web Developer: Lian Aga Aditya Fotografi: PhoKerS ALAMAT REDAKSI: Jl. Merapi RT. 03 RW. 02 Ds. Tanjung Kertosono PENERBIT: KERTOSONO KREASI MANDIRI (http://kkm.kertosono.net) AKUN BANK/BANK ACCOUNT: No. 2050-01-000784-53-6 BRI KCP KERTOSONO A/n: KERTOSONO KREASI MANDIRI

Pin It on Pinterest

Shares
Share This