Geliat Perekonomian Di Seberang Suramadu

by | Oct 14, 2015 | Edisi 14, Reportase & Feature | 0 comments

SUDUT PANDANG


Pada Edisi 14 ini (Edisi Ekonomi Kreatif), ada empat tulisan dari kontributor magang asal Pamekasan, Madura. Geliat Perekonomian Di Seberang Suramadu adalah salah satu tulisan mereka. Selamat membaca.

geliat-perekonomian-seberang-suramadu

Sebagai penghubung antara Pulau Madura dan Pulau Jawa, jembatan Suramadu dikatakan sukses besar. Namun masih perlu ada kajian serta evaluasi terhadap perkembangan dan kemajuannya. Dengan adanya jembatan ini, diharapkan pertumbuhan ekonomi masyarakat Madura semakin meningkat di segala bidang.

PAMEKASAN, KERTOSONO.NET – Sejak diresmikan pada tanggal 10 Juni 2009, jembatan Suramadu diprediksi menjadi penghubung yang luar biasa untuk arus barang dan orang. Baik dari/ke Pulau Madura dan sebaliknya dari/ke Surabaya, maupun ke kota lain di Pulau Jawa. Namun sayangnya setelah 5 tahun lebih berdiri, jembatan Suramadu yang pembangunannya menelan biaya lebih dari 4,5 triliun rupiah belum memberikan perubahan secara maksimal.

Bahkan BPWS (Badan Pengembangan Wilayah Suramadu) yang dibentuk presiden belum bekerja secara maksimal. Terbukti dengan minimnya perkembangan hampir di semua bidang pasca pembangunan jembatan Suramadu. Geliat pertumbuhan di bidang ekonomi, wisata, maupun infrastruktur masih berjalan lamban dan tidak sesuai prediksi awal, khususnya di wilayah Madura.

Pamekasan merupakan kabupaten yang terletak di tengah-tengah Pulau Madura. Kabupaten ini dikenal dengan sebutan Kota Gerbang Salam. Selain posisi yang strategis, Kabupaten Pamekasan juga memiliki potensi sumber daya manusia yang dinilai lebih baik dari tiga kabupaten lainnya. Hal inilah yang menjadikan Pamekasan memiliki peranan penting di Pulau Madura.

Di sektor pertanian Pemerintah Kabupaten Pamekasan melakukan terobosan dengan melakukan program konversi tanaman tembakau ke tanaman tebu. Tanaman tebu yang merupakan hasil program konversi kemudian dibeli oleh pemerintah kabupaten, untuk dikirimkan ke pabrik-pabrik pengolahan tebu di Pulau Jawa. Pengolahan mandiri belum bisa dilakukan di Kabupaten Sumenep, dikarenakan program ini baru saja dimulai sehingga untuk produksi dari hulu ke hilir masih memerlukan waktu.

Saat ini Kabupaten Pamekasan menggencarkan slogan “Investasi yuk ke Pamekasan!” bagi para investor lokal maupun yang berasal dari luar daerah. Yang mulai nampak mengalami perkembangan adalah bidang kuliner, di mana semakin banyak kafe dan tempat makan yang menjamur di Pamekasan.

Meski begitu, pertumbuhan ekonomi di Pamekasan masih jauh panggang dari api. Hal ini diketahui dari jumlah Pendapatan Asli Daerah (PAD) tahun 2014 hanya sebesar 159 miliar rupiah. Padahal, Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) untuk tahun 2015 sebesar 1,5 triliun rupiah. Hal ini diperparah dengan APBD yang masih belum dapat terserap seluruhnya di tahun 2014 lalu. (Sumber : Ralita FM, 14 November 2014). Pemerintah dinilai belum dapat memaksimalkan pendapatan di sektor pajak dan pendapatan non pajak.

Jika dilihat secara keseluruhan, PAD Kabupaten Pamekasan bisa lebih dari nilai yang telah disebutkan tadi. Sayangnya, pemerintah masih enggan melirik para UKM yang sebenarnya bisa menjadi sumbangsih bagi pendapatan daerah. Pemerintah kabupaten, dalam hal ini melalui dinas-dinas terkait, dinilai lamban dalam melakukan pengembangan potensi UKM.

Pemerintah kabupaten hanya fokus pada usaha-usaha yang sudah besar dan dinilai mampu memberikan nilai pajak yang cukup signifikan. Padahal jika UKM ini dikembangkan dengan cara memberikan pelatihan, memberikan dana pinjaman, dan penyediaan sarana yang mumpuni; UKM dapat berkembang dengan baik, dan pendapatan daerah pun akan meningkat. Sangat disayangkan memang, pemerintah kabupaten saat ini seolah-olah enggan untuk memberikan perhatian lebih pada pelaku industri kecil dan menengah ini.(http://www.koranmadura.com/2014/09/17/dinas-koperasi-dan-ukm-tak-mau-dikritik/).

Memang hal yang mustahil jika pemerintah kabupaten memberikan insentif ke seluruh UKM yang ada, akan lebih efektif bila pemberian insentif dilakukan dengan sistem pinjaman bergulir melalui kelompok kecil seperti komunitas maupun koperasi agar UKM yang ada tidak jalan di tempat atau bahkan bahkan gulung tikar.

Jika dapat mensinergikan antara fungsi jembatan Suramadu dengan perhatian pemerintah kabupaten, maka dipastikan perekenomian dapat terus berkembang, penyerapan tenaga kerja dapat terlaksana dengan baik, dan tentunya mampu meningkatkan PAD. Harapan dapat terwujud asalkan semua pihak mau bekerja sama, sehingga menjadikan Madura lebih madani dan lebih baik lagi. (Tsabbit Aqdami Mukhtar)

Archives

Categories

E-Magazine PDF Version


Arsip Majalah Kertosono Versi 1.00

Susunan Redaksi Majalah Kertosono Edisi 14. Editor in Chief: Firdaus Effendy. Senior Editor: Kusdianto, Ety Andrijana, Faizal Ansyori, Difana Jauharin. Managing Editor: Davit Adi Saputro. Editor: Livia Alvita. Digital Marketing Executive: Moh. Alvin Kholily. Art Director: Fariz R. Wijaya. Web Developer: Lian Aga Aditya. Kontributor Tulisan: Tamaya Aristalia Arlini, Tsabbit Aqdami Mukhtar, Ita Surajaya, Halimatus Sya’dyyah, Heldyana Umabella Prabasari, Cholis Tontowi, Dhawil Firdausy, Siwi Yuli Purnamasari, Eva Nurohmah. Fotografi: PhoKerS. ALAMAT REDAKSI: Jl. Merapi RT. 03 RW. 02 Ds. Tanjung Kertosono. PENERBIT: KERTOSONO KREASI MANDIRI (http://kkm.kertosono.net). AKUN BANK/BANK ACCOUNT: No. 2050-01-000784-53-6 BRI KCP KERTOSONO A/n: KERTOSONO KREASI MANDIRI

Pin It on Pinterest

Shares
Share This