Gayatri

by | Dec 22, 2015 | Edisi 14, Fiksi | 0 comments

CERPEN


Kisah dan nama-nama tokoh dalam cerpen ini hanya fiktif. Jika ada kesamaan / kemiripan nama dan / atau kisah itu hanya kebetulan belaka.

gayatriGayatri

Oleh: Evilia Putri

Cahaya obor menerangi raut muka sepasang suami istri yang ketakutan. Di depannya, kerumunan masyarakat tengah marah tersulut emosi bak jilatan api obor yang merah menyala. Salah seorang lelaki, yang adalah calon tunggal kepala desa, mendekatkan obor ke wajah sang suami sambil tersenyum penuh kemenangan. Suami itu refleks melindungi istrinya dan mendekapnya erat.

Tiba-tiba lelaki tersebut mengacungkan tongkat dan menghantamkannya ke tubuh lemah di depannya. Sang istri menjerit meminta pengampunan sembari merengkuh suaminya yang menahan rasa sakit dari pukulan bertubi- tubi. Setelahnya, lelaki itu kembali kedalam kerumunan. Warga yang dihasut kebencian segera melempari kedua pasangan tersebut dengan batu tanpa ampun. Teriakan kesakitan dan tangisan tak menyurutkan amarah mereka.

Di dalam rumah, seorang anak perempuan meringkuk ketakutan di bawah meja makan. Badannya gemetar menahan tangis. Kedua tangannya mendekap erat buku usang pemberian ayahnya. Tanpa ia sadari, sepasang kaki berhenti tepat di depannya. Wajah asing menengok ke bawah meja membuatnya menjerit, namun tak ada suara yang dapat keluar. Tangan besar lelaki itu lantas menarik dan menggendongnya keluar rumah lewat pintu belakang. Kemudian mengendap-endap dengan cepat di balik semak-semak samping rumah menuju hutan.

Dari bahu sang lelaki, bocah kecil itu melihat kerumunan orang tengah membakar tubuh dua orang yang diikat di pohon di depan rumahnya. Ia berusaha mengenali tubuh yang sedang berselimut api hingga hilang dari pandangnya. Lalu ia menangis dalam diam mengingat ayah dan ibunya.

50 th kemudian

Seorang gadis berlarian mengejar kelinci peliharaan kakeknya dengan senyum cerah. Sang kakek, Barno, tersenyum melihat tingkah cucu perempuannya itu. Dia melambaikan tangan sambil menunjukkan sebuah bungkusan ke cucunya. Melihat itu, si cucu memusatkan konsentrasi lalu secara ajaib bungkusan itu melayang kearahnya. Barno tersenyum melihat keberhasilan Gayatri melatih bakat miliknya.

Barno mengedipkan mata memberi isyarat pada Gayatri untuk mendekat. Ada sesuatu yang ingin Barno katakan tanpa ada seorangpun yang tahu, termasuk ibu Gayatri yang tengah menjemur karak(1) beberapa langkah dari bocah remaja itu.

“Niki buku nopo, Eyang?” Gayatri menatap kakeknya penasaran.

Barno lalu membetulkan posisi kedua tongkatnya dan berjalan menjauh. Gayatri mengikutinya, “Nduk, buku ini milik biyungmu. Ojo dibuka sekarang ya nduk. Bukaen buku iki pas sampai di Desa Bendoro nanti.”

“Desa Bendoro, Yang? Lah wonten nopo di sana, Yang?”

“Pokok kowe harus ke sana, di sana ada rumah tua. Rumah tua itu peninggalan eyangmu.” Barno menghela nafas sejenak “Eyang kandungmu nduk.”

Barno menceritakan apa yang terjadi 50 tahun lalu pada Gayatri. Bocah remaja itu marah dan kecewa mendengar kisah tentang kakek dan nenek kandungnya yang diperlakukan dengan keji. Ia juga menyesali nasib ibunya yang lemah dan sakit- sakitan sejak kecil sehingga tak dapat membalas dendam pada kepala desa.

“Besok pagi kamu mesti berangkat, Nduk! Kalau saja Eyang masih punya kaki, Eyang pasti ngewangi kowe, Nduk.”

Pagi buta keesokan harinya, Gayatri berjalan keluar rumah. Bungkusan besar membebani punggungnya. Buku pemberian Barno ia dekap erat. Sang ibu masih terlelap, ia sempat mengecupnya sebelum berangkat. Gayatri yakin, jika ibu terbangun, ia pasti melarangnya berangkat ke Bendoro.

“Ayo nduk cepetan!” perintah Barno pada Gayatri agar lekas naik delman yang ia kusiri.

Sepanjang perjalanan, Barno menceritakan tentang kejayaan Desa Bendoro di masa lampau. Desa Bendoro konon terkenal sebagai penghasil jajanan terenak di Jawa. Kejayaannya berakhir saat ada kutukan orang makan makanan dari tepung beredar di desa itu. “Tapi, Nduk, Desa Bendoro gak dikutuk. Khusnan, kepala desa, yang menyebarkan isu itu.”

“Lihat itu, Nduk,” Barno menunjuk segerombol orang yang berpenampilan lusuh dan kurus kering. Mereka terlihat sangat menyedihkan. “Mereka adalah korban ketamakan kepala Desa Bendoro, Nduk.”

Sesampainya di Bendoro, Gayatri turun dan berpamitan dengan kakeknya. Barno memberikan waktu kepadanya 3 hari dan berpesan untuk menemui Badrun, pemuda yang akan membantunya. Gayatri berjalan mengelilingi desa dan berhenti di depan rumah tua yang tak terurus. Sebuah pohon menjulang dengan beberapa bagian yang gosong bekas terbakar. Gayatri merinding melihatnya. “Ini pasti rumah eyang,” pikirnya.

“Yu!” sapa seorang pemuda.

“Eh? Duh, Gusti.” Gayatri terkaget.

“Aku Badrun, Yu.” lelaki itu mengenalkan diri. “Gayatri, to?” Gayatri mengangguk.

Mereka berdua berkeliling desa mencari rumah sewaan. Gayatri memilih pondok kecil di sebelah rumah kepala desa. Menurut tetangga, pondok itu dulunya ditempati oleh keluarga yang menghilang tiba-tiba. Gayatri tak merasa takut. Badrun pun mengatakan kalau kemungkinan keluarga yang menempati rumah tersebut pergi diam-diam pada malam hari karena tak sanggup membayar pajak kepala desa yang begitu besar.

“Hmmm, ngapain si Gatot sialan itu lihat-lihat kemari.” gumam Badrun sambil melirik ke arah beranda rumah kepala desa.

“Gatot?” tanya Gayatri.

“Iya, Gatot anak kepala desa yang entah dari istri yg keberapa.” terang Badrun sambil mengingatkan Gayatri agar berhati-hati pada anak Khusnan yang mata keranjang. Gayatri hanya tersenyum menanggapi ucapan Badrun.

Selesai beres-beres, Gayatri mengeluarkan bakal adonan apem yang ia siapkan semalam. Dia ingin mengetahui, apa benar warga desa ini tak mau memakan makanan dari tepung. Apa mungkin mereka bisa menahan godaan kue Gayatri yang terkenal enak.

Sore harinya, Gayatri mulai berkeliling desa menjajakan kue buatannya. Wangi dari kue Gayatri menyeruak, membuat seluruh warga keluar rumah menghampiri sumber aroma. Gayatri menawarkan kuenya gratis. Namun warga ragu-ragu dan mulai menjauhi Gayatri walaupun mereka sebenarnya sangat ingin mencicipi kue itu.

Seorang anak kelaparan, Murni, mendekati Gayatri. Ia mengambil satu apem. Ibu Murni berusaha mencegah, tapi Murni sudah memasukkan apem itu ke mulutnya dan mengunyahnya dengan lahap. Gayatri tersenyum puas. Ibu Murni terkejut dan takut akan terjadi sesuatu pada anak perempuannya. Warga yang berkerumun juga penasaran untuk melihat apa yang akan terjadi.

“Makanannya enak.” Murni kecil menjilat-jilat bekas apem yang ada di tangannya.

“Mau lagi?”

“Mau. Gratis kan?” Gayatri tersenyum dan mengangguk.

Murni menerima kue pemberian Gayatri dengan senang dan berlari kearah ibunya. Ibu Murni memandangi anaknya dengan takjub. Ia menanyakan kondisi Murni, tapi Murni merasa baik-baik saja. Akhirnya seluruh warga mendekati Gayatri kembali dan mengambil kuenya. Satu orang yang takut untuk memakan kue Gayatri bergegas pergi. Ia memberi tahu kepala desa tentang hal ini.

Gayatri pulang ke rumahnya dengan gembira. Tetapi ada yang tidak beres, puluhan oreng berbadan gempal berkerumun di depan rumahnya. Badrun menghampiri Gayatri untuk memberi tahu bahwa itu adalah antek-antek kepala desa. Mereka tak suka karena hari ini ia sudah membagikan kue kepada warganya. Gayatri musti hati-hati.

Gayatri menepuk pundak Badrun dan tersenyum, dia berjalan ke arah orang yang berkerumun. Ia mengangguk mengiyakan saat salah seorang dari kerumunan mengatakan larangan Gayatri menbagikan apem. “Asal saya dan Badrun boleh bekerja di rumah kepala desa,” lanjutnya.

Antek-antek itu awalnya menolak karena kepala desa tak membutuhkan perempuan untuk bekerja di rumahnya. Anak kepala desa, Gatot, yang memimpin kerumunan itu terpikat dengan pesona Gayatri. Ia menyanggupi permintaannya.

Malamnya, diterangi sebuah ublik, Gayatri teringat buku ibunya. Segera ia membaca buku itu. Ternyata isinya adalah tentang kepala desa yang mampu hidup lama dan awet muda dari tumbal-tumbal yang dia korbankan kepada iblis. Satu kelemahannya jika kepala desa itu makan makanan yang telah dibubuhkan tepung ajaib maka kekuatannya akan hilang. Tepung ajaib itu dibuat dari campuran bahan-bahan aneh. Di bagian belakang buku ada sebungkus serbuk putih. “Eyang pasti telah berhasil membuat tepung ini sebelum kejadian itu,” Gayatri sedih mengingatnya.

Gayatri bingung memikirkan cara membubuhkan tepung ajaib ini ke makanan kepala desa. Dia tak henti-hentinya berpikir saat bekerja sehingga sering membuat kesalahan. Tak jarang ia pun dibentak dan dimarahi oleh kepala desa. Gayatri juga berulang kali didekati oleh Gatot, yang hendak berbuat kurang ajar. Akan tetapi Badrun dengan sigap melindunginya.

Malam kedua di Desa Bendoro, Gayatri melihat kepala desa. Wajahnya pucat seperti mayat hidup. Tubuhnya bengkak seperti gajah. Gayatri merinding melihat wujud kepala desa. Ia secara sembunyi-sembunyi mengikuti kepala desa memasuki sebuah ruangan. Gayatri mengendap-endap merasa dirinya aman dan tak terlihat. Akan tetapi, tiba-tiba Khusnan berbalik.

“Kamu kembali keturunan Anggodo.” Khusnan berjalan pelan ke arah Gayatri yang kaget.“Memberi tumbalku apem, nantang kowe yo!”

Gayatri masih terkejut dengan teriakan Khusnan. Tiba-tiba sejumlah lelaki bertubuh besar mengelilinginya. Gayatri pun bersiap dengan serangan antek-antek tersebut. Satu persatu antek Khusnan maju dan menyerangnya. Tapi Gayatri dengan sigap menangkis pukulan dan tendangan yang menghampirinya.

Di luar, Badrun mendengar kegaduhan di dalam ruangan. Ia mencemaskan Gayatri dan segera mendobrak pintu. Dia melihat Gayatri sedang bertarung dan tampak kelelahan. Badrun dengan cekatan membantunya. Dengan segala kemampuan silat yang telah diajarkan kakeknya, mereka berusaha melawan.

Gayatri terus bertarung hingga dia kelelahan. Sebuah tendangan Khusnan, yang tak dapat ditangkisnya, mendarat tepat ke perutnya. Gayatri jatuh tersungkur. Antek-antek kepala desa segera menghujaninya dengan tendangan. Badrun ingin menyelamatkan Gayatri, tapi dia pun ikut dihujani dengan pukulan dan tendangan.

“Cukup! Talenono neng kursi.” perintah Khusnan.

Gayatri diikat di sebuah kursi di dalam ruangan kepala desa. Sedangkan Badrun dibawa keluar. Melihat waktu sudah mulai tengah malam, Khusnan segera meninggalkan Gayatri yg terikat menuju bilik tempat ia melakukan ritual rutinnya hingga ia terlelap di dalamnya.

Gayatri yang begitu kelelahan berusaha memulihkan tenaganya. Luka-luka di tubuh Gayatri secara perlahan hilang saat ia mengembalikan konsentrasinya.

Suara orang masuk membuat Gayatri terjaga. Ia berpikir bahwa Badrun berhasil lepas dari antek-antek kepala desa. Namun ternyata bukan, langkah kaki itu milik anak kepala desa, dia datang untuk menggodanya. Sesuatu segera terlintas di kepala Gayatri.

“Loh? Gayatri? Nyapo kok ditaleni ning kene?”

“Bapak salah paham, Kang. Gayatri diarani maling.” ia memasang wajah sedih, “padahal Gayatri cuma pengen nolong bapak.”

“Oalah.. sini, Akang lepasin.” Gatot mendekat.

“Mboten pun, Kang. Nanti bapak marah sama Akang.”

“Oh ya sih.” Gatot memandanginya. “Hmm.. Gayatri, mau ndak jadi istri Akang?” tanya anak kepala desa itu.

“Emm..piye yo, Kang? Gayatri yakin bapak mboten setuju.” ia mengatakannya lirih. “Tapi Kang, Gayatri punya bubuk yang bisa membuat orang menuruti apa yang kita mau.” lanjut Gayatri saat matanya bertemu dengan Gatot. Mereka berdua lantas merencanakan sesuatu dengan bubuk itu.

Pagi terakhir di Bendoro, Gayatri masih terikat di kursi. Kepala desa duduk di depannya dengan puluhan piring berisi makanan di atas meja. Saat kepala desa mulai menyuap makanan ke dalam mulut, Gayatri menunggu dengan gugup. Ia berdoa semoga usahanya membodohi Gatot semalam membuahkan hasil.

Tak berapa lama sesuatu terjadi pada tubuh kepala desa. Kulitnya membengkak mengeluarkan cairan berbau busuk dan menyengat. Semua orang di sana reflek menjauh dari meja makan. Khusnan berteriak kesakitan, tubuhnya bergetar hebat hingga kejang-kejang.Wajahnya berubah tua dan rambut hitamnya rontok.

“KETURUNAN ANGGORO ASU! BAJINGAN!” teriakan mengerikan keluar dari mulut Khusnan.

Semua orang berlari ketakutan meninggalkan Gayatri dan kepala desa. Dengan cepat Gayatri melayangkan pisau dari meja makan untuk memotong ikatannya. Lalu ia berdiri menantang Khusnan. Kepala desa itu maju dan menerjang tubuhnya. Dengan sigap ia menghindar meraih sebotol minyak lantas melemparnya kearah kepala desa. Seketika minyak itu tumpah di tubuh kepala desa.

“Ini untuk eyang putri dan eyang kakungku!”

Gayatri menjentikkan jari. Api yang keluar dari jentikan jarinya melayang menuju kepala desa. Seketika tubuh kepala desa terbakar. Kepala desa berlari ke sana ke mari ingin memadamkan api yang membakar tubuhnya, hingga membuat kain-kain tirai di rumah itu ikut terbakar. Gayatri hendak kabur namun tertahan oleh Gatot. Ia berdiri di ambang pintu dan sedang menatapnya penuh amarah.

Gatot menerjang Gayatri dengan membawa balok kayu. Gayatri dengan sigap menghindar. Anak kepala desa itu tidak menyerah dan terus menyerangnya. Karena kehabisan waktu, Gayatri membuat tubuh anak kepala desa itu melayang. Ia melemparkannya kearah tirai yang terbakar membuat Gatot menjerit kesakitan.

Api sudah menjalar kemana-mana. Gayatri kembali berkonsentrasi dan berlari keluar secepat yang ia bisa. Ia mencari Badrun dan segera menyelamatkannya.

Di luar, matahari bersinar begitu terik. Warga berkerumun di depan rumah kepala desa. Mereka tidak berusaha memadamkan apinya melainkan sibuk menghitung harta yang berhasil mereka ambil. Melihat Badrun keluar dengan Gayatri semua warga bersorak. Dalam kerumunan terlihat Barno datang menjemput Gayatri.

Mereka bertiga duduk di atas kereta kuda. Badrun bercerita panjang lebar tentang kehebatan Gayatri. Sementara Gayatri terdiam tak sabar ingin menceritakan semua pada ibunya. Barno menceritakan bahwa Badrun adalah cucu kandungnya. Badrun sengaja ditinggal di Bendoro untuk memata-matai Khusnan.

Ibu Gayatri yang tengah menunggu di depan rumah tersenyum bahagia melihat anak satu-satunya kembali dengan selamat. Keluarga tersebut menghabiskan waktu mereka untuk bercerita dan bercanda. “Gayatri, ceritakan ke Ibu caramu memberikan bubuk itu ke Khusnan,” Gayatri teringat Gatot dan tersenyum sendiri.

Di sisi lain di dalam hutan desa Bendoro, seorang laki-laki separuh tubuhnya terbakar berjalan terseok-seok. “Tak pateni kowe Gayatri!”

(1)Karak (Nasi Aking) sisa nasi semalan yang tak habis dimakan yang dikeringkan dan biasanya dimanfaatkan untuk makanan tradisional atau pakan ayam.

Archives

Categories

E-Magazine PDF Version


Arsip Majalah Kertosono Versi 1.00

Susunan Redaksi Majalah Kertosono Edisi 14. Editor in Chief: Firdaus Effendy. Senior Editor: Kusdianto, Ety Andrijana, Faizal Ansyori, Difana Jauharin. Managing Editor: Davit Adi Saputro. Editor: Livia Alvita. Digital Marketing Executive: Moh. Alvin Kholily. Art Director: Fariz R. Wijaya. Web Developer: Lian Aga Aditya. Kontributor Tulisan: Tamaya Aristalia Arlini, Tsabbit Aqdami Mukhtar, Ita Surajaya, Halimatus Sya’dyyah, Heldyana Umabella Prabasari, Cholis Tontowi, Dhawil Firdausy, Siwi Yuli Purnamasari, Eva Nurohmah. Fotografi: PhoKerS. ALAMAT REDAKSI: Jl. Merapi RT. 03 RW. 02 Ds. Tanjung Kertosono. PENERBIT: KERTOSONO KREASI MANDIRI (http://kkm.kertosono.net). AKUN BANK/BANK ACCOUNT: No. 2050-01-000784-53-6 BRI KCP KERTOSONO A/n: KERTOSONO KREASI MANDIRI

Pin It on Pinterest

Shares
Share This