EKSISTENSI NASI TUMPANG SEBAGAI KEKAYAAN KULINER

by | Oct 25, 2016 | Non Edisi, Opini | 0 comments

EKSISTENSI NASI TUMPANG SEBAGAI KEKAYAAN KULINER
Rubrik : Opini
Penulis : Nu man Falah
Fotografi: Fandy Achmad


Arus globalisasi berdampak signifikan terhadap tumbuh suburnya restoran western yang menyajikan makanan cepat saji (fast food). Di sisi lain gaya hidup serba cepat dan instan membuatnya semakin digemari. Dapatkah hal ini dikategorikan sebagai ancaman terhadap eksistensi makanan tradisional, seperti halnya nasi tumpang?

foto-nasi-pecel-tumpangKERTOSONO.NET-Sebagai salah satu makanan khas Jawa Timur, nasi tumpang memiliki cita rasa yang tidak ditemui pada makanan dari daerah maupun negara lain. Tumpang adalah makanan berbahan dasar tempe yang sengaja dibiarkan basi, diracik dengan bumbu-bumbu pilihan sehingga terciptalah makanan dengan cita rasa dan aroma sedap.

Satu porsi tumpang terdiri dari nasi, aneka sayur-mayur yang telah direbus kemudian disiram kuah tumpang dan diberi rempeyek sebagai pelengkap. Dalam penyajiannya nasi tumpang menggunakan pincuk sebagai pengganti piring, penggunaan sendok sebagai alat makan pun digantikan suru yang membuat tampilan nasi tumpang semakin menggugah selera penikmatnya.

Di daerah pedesaan, nasi tumpang sudah menjadi menu keseharian, bisa dibilang menu wajib sebelum memulai aktivitas di pagi hari. Menemui warung dengan menu nasi tumpang tidaklah sulit, meski begitu tak jarang para pembeli harus sabar menunggu karena banyaknya pesanan. Suasana kekeluargaan sering dijumpai saat kegiatan tersebut berlangsung, obrolan ringan antara pembeli dengan penjual, dan antara pembeli dengan pembeli yang lain. Sembari menunggu, obrolan terceletuk mendiskusikan hal-hal yang sedang menjadi topik hangat. Tidak jarang obrolan bergantikan canda tawa.

Eksistensi nasi tumpang di pedesaan berbanding-terbalik dengan kota-kota besar di Jawa Timur. Di daerah perkotaan menemui warung yang menyediakan menu nasi tumpang tidaklah mudah. Calon pembeli harus menyusuri daerah pinggiran kota demi dapat menikmati cita rasa nasi tumpang. Kondisi ini salah satunya disebabkan kian menjamurnya restoran western yang menyajikan makanan cepat saji (fast food) di daerah perkotaan.

Disadari atau tidak, arus globalisasi memberikan dampak signifikan terhadap kelestarian kekayaan kuliner lokal, salah satunya adalah tergesernya makanan tradisional oleh makanan western. Restoran western dengan menu makanan cepat saji mulai menjadi pilihan bagi kebanyakan masyarakat di era modern, selain alasan tempat yang nyaman, juga terpenuhinya tuntutan serba cepat dan instan. Alhasil, nasi tumpang menjadi kurang digemari masyarakat perkotaan.

Nasi tumpang seharusnya dipahami sebagai kekayaan kuliner lokal yang sepatutnya dijaga kelestariannya. Jangan sampai keluhuran yang diwariskan melalui keramahan tergantikan sistem yang terwaralaba.

Akankah kelezatan yang muncul dari kesederhanaan penyajian, keramahan dan cita rasa nasi tumpang tersebut masih dapat dinikmati oleh generasi yang akan datang? Semakin kuatnya arus globalisasi tentunya bisa mengancam kekayaan kuliner lokal. Sepuluh atau dua puluh tahun lagi bisa jadi nasi tumpang menjadi makanan asing di negeri sendiri. Atau dengan kemauan dan kesadaran bersama untuk menjadikan makanan tradisional sebagai raja di negeri sendiri.

Archives

Categories

E-Magazine PDF Version


Arsip Majalah Kertosono Versi 1.00

Susunan Redaksi Majalah Kertosono Edisi 16. Editor in Chief: Davit Adi Saputro. Senior Editor: Kusdianto, Ety Andrijana, Faizal Ansyori, Difana Jauharin. Managing Editor: Livia Alvita. Editor: Tamaya Aristalia Arlini, Halimatus Sya’dyyah, Eva Nurohmah. Digital Marketing Executive: Moh. Alfin Kholily. Art Director: Fariz R. Wijaya. Web Developer: Moch. Cholil Hamzah. Fotografi: PhoKerS. ALAMAT REDAKSI: Jl. P. Sudirman G5 Kertosono 64351 Phone : +62358-555640. PENERBIT: KERTOSONO KREASI MANDIRI (http://kkm.kertosono.net). AKUN BANK/BANK ACCOUNT: No. 2050-01-000784-53-6 BRI KCP KERTOSONO A/n: KERTOSONO KREASI MANDIRI

Pin It on Pinterest

Shares
Share This