CREDO


Visi dan Misi
Majalah Kertosono

Capture Visi dan Misi Majalah Kertosono

Penjelasan Visi dan Misi

Apakah kita ingin seperti contoh buruk dan gagal dari umumnya sebuah kota besar? Yang dulunya asri, bersih, sejuk, jalanan tertib dan lancar, berubah menjadi kotor, banjir, padat, pengap, kumuh, kriminal, macet dan depresif. Padahal kota-kota besar itu lengkap dengan segala fasilitas modernnya: gedung tinggi, mall dan jalan layang? Mereka memang kota besar dengan fasilitas modern, tapi tidak berbudaya modern. Lebih tepat jika dikatakan kota korban modernisasi.

Aparat yang malas dan suka maling uang rakyat, pengusaha bermodal besar tapi kere, dan masyarakat yang tidak peduli alias mikir kepentingannya sendiri adalah syarat terjadinya korban modernisasi.

Kota besar memang amat berpotensi seperti itu, karena arus urbanisasi yang tak terkendali. Meskipun secara umum masyarakatnya trampil, tapi karena tekanan ekonomi dan pola hidup yang konsumtif, akhirnya terpaksa jadi apatis.

Kertosono lama kelamaan juga bisa seperti itu. Dari itulah mumpung masih banyak ruang gerak untuk mendesain tata kota dan masih relatif sedikit jumlah penduduknya, mestinya kekompakan lebih bisa terwujud. Untuk itu mari kita tentukan langkah awal untuk Kertosono kota berbudaya modern. Dengan cara mengupayakan cara hidup masyarakat yang berkomitmen atas amanah untuk menjaga bumi dan tatanan kehidupan ini dari kerusakan.

Dan tanggungjawab kita sekarang adalah menyatukan visi dan misi untuk bumi Kertosono. Prioritas pertama jelas pendidikan. Yaitu pendidikan non formal, belajar cara hidup yang baik, cara bersosial dan berkomunikasi yang benar, cara menyikapi teknologi baru dengan mengambil sisi positifnya. Dan tentunya belajar semua ilmu yang bisa mencerdaskan kita.

Dalam pendidikan non formal ini, siapa yang jadi guru? Yaitu warga Kertosono yang berkompeten. Siapa yang jadi murid? Yaitu semua warga Kertosono tanpa kecuali.

Prioritas kedua adalah ekonomi dan bisnis. Sekali lagi satukan visi dan misi, jangan jalan sendiri-sendiri. Jangan egois berfikir bisnis masing-masing. Berbisnis secara egois akan memancing orang lain juga berbuat egois, sehingga terjadi persaingan yang tidak sehat yang justru akan menghancurkan tata niaga dan tata kota.

Melalui Majalah Kertosono, kita ekspose semua bisnis secara bergiliran, agar semua tahu dan (sebisa mungkin) kita tidak perlu belanja ke luar kota, karena semua kebutuhan sudah terpenuhi di Kertosono, tentunya dengan kualitas dan harga yang bersaing.

Jika misi ini berjalan baik maka gambaran Kertosono di masa depan adalah kota yang masyarakatnya pintar, kreatif dan inovatif. Juga bijak menghadapi hal baru, misalnya teknologi informasi atau otomotif. Salah satu aktualisasinya mungkin adalah masyarakat yang menjaga udara juga air agar tetap bersih. Karena kita pintar dan menyadari bahwa udara dan air adalah sumber kehidupan. Tidak gampang menebang pohon, karena tahu kalau pohon itu berfungsi membersihkan udara dan air tanah.

Karena lingkungan bersih dan sejuk, otomatis kita akan segan mengotori udara dengan asap kendaraan dan lebih memilih jalan kaki atau mengayuh sepeda.

Masyarakat yang bisa menjaga dan memelihara cagar budaya, bukan malah merobohkannya demi berdirinya bangunan baru untuk kepentingan bisnis. Karena dari situs-situs sejarah itulah bisa dilakukan penelitian sekaligus sebagai obyek pariwisata.

Dan puncak prestasinya adalah, masyarakat Kertosono yang tidak mudah tergiur oleh investor yang ingin membeli sawah mereka, karena kebutuhan hidup sudah tercukupi. Tidak harus karena kaya, tapi lebih karena bisa hidup sederhana, tahu mana kebutuhan dan mana keinginan. Selain juga karena memahami kalau sawah itu jatuh ke tangan investor yang tidak bertanggungjawab pasti akan dialih-fungsikan menjadi bangunan yang berpotensi merusak lingkungan. Misalnya pabrik, mall atau perumahan tanpa rencana dan kontrol yang benar.

Bayangkan betapa modernnya kota Kertosono saat itu. Entah berapa tahun lagi, dan kita yang hidup sekarang inilah yang menentukan apa jadinya Kertosono kelak, jadi kota modern atau jadi kota korban modernisasi.


Komentar untuk artikel ini sudah dialihkan ke:

Majalah Kertosono on Facebook


Komentar yang sempat terarsip saat awal publikasi credo, sudah menggunakan facebook-comment

Ifin Capung tetap terapresiasi dgn adanya blog kertosono ! mengubah pola pikir seseorang tidak segampang anggapan kita, harus kuat secara ekonomi, akademis juga harus bagus, tak lupa dukungan lingkungan sejauh ini apa pengamatan kita, semuanya masih paradok ! apa yang bisa diperbuat di blog kertosono ? saya sudah berkontribusi walau lewat tulisan, tapi apa ini cukup ? keseimbangan antara birokrat, teknokrat, ulama, warga, harus terus digali, apa ini sudah dilakukan oleh blog kertosono ?

Dec 6, 2010

Majalah Kertosono Thanks Mas Ifin, atas kritik dan saran yang membangun. Secara bertahap BLOG KERTOSONO akan dibaca oleh semua kalangan. Terus semangat nulis opininya ya? Bravo!

Dec 7, 2010

Kusdianto Lenon Agar supaya Kertosono tidak menjadi kota yang jadi korban modernisasi, masyarakatnya harus tetap di Rel Budaya dan Tradisinya. Karena di era gombalisasi ini banyak rakyat Indonesia yang lupa akan budaya dan trdisiya. Ibarat ” Kacang Lupa Kulitnya ” kasihaaaann…dech…mereka.

Jan 6, 2011

Majalah Kertosono @Kusdianto: setuju pak, kharakter budaya dan tradisi Indonesia pada umumnya dan Jawa pada khususnya sebenarnya bernilai luhur, hanya saja selama ini masih dikemas dengan cara-cara jadul, jadi kesannya kolot. Cara harus disesuaikan dengan jaman, agar kebenarannya bisa dirasakan.

Jan 9, 2011

Anas Priyo Memahami jalan pikiran orang itu susah. Satu sisi ingin kenyamanan, sedangkan sisi lain berbenturan dengan persoalan ekonomi. Kalo dipikir-pikir Wong Kertosono iku seperti ngatur dirinya sendiri. Mlaku koyo mlakune banyu. Jan..wis pak Camat ki..kok seneng gajian tok! Tanda tangan/stempel KTP..trus njaluk duit. Coba kalo pak Camat Mbayari wong nggo ngelola komunitas macam blog Kertosono koyo iki..sing serius banget. Ono komunitas antar kampung, kuliner, agribisnis, pedagang kecil, grup petani…kabeh tumplek Blek…menjadi satu wadah…antara warga yg tinggal dan perantau…..Wah Kertosono pasti tangsah ngangeni.

Jan 12, 2011

Majalah Kertosono @Anas Priyo: matur suwun pak atas urun rembugnya. Memang itu salah satu dari terjemahan visi kita, semua warga rukun dan kompak. Butuh wadah atau komunitas yang terus update, sbg indikasi tidak mati. Makanya sbg salah satu strategi Majalah Kertosono agar tidak mati adalah merekrut sebanyak-banyaknya warga kertosono untuk jadi kontributor, kualitas belakangan, nanti suatu saat pasti akan terasah sendiri, yang penting sekarang adalah, mau nulis dan mau membaca, dan tentu saja variatif.

Jan 12, 2011

Archives

Categories

E-Magazine PDF Version


Arsip Majalah Kertosono Versi 1.00

Pin It on Pinterest

Shares
Share This