Asa di Tengah Reruntuhan Perekonomian Malam

by | Apr 18, 2017 | Edisi 16, Sorotan | 0 comments

Penulis : Livia Alvita
Fotografer : Ilham Abi Manyu

Apakah perubahan kondisi ekonomi eks lokalisasi Dolly yang drastis berdampak signifikan pada generasi mudanya?

KERTOSONO.NET
Pola asuh orang tua berpengaruh terhadap perilaku, karakter dan sifat anak. Orang tua yang aktif akan memantau setiap detail kegiatan anaknya bukan dalam artian membatasi anak. Setiap anak membutuhkan perhatian serta kasih sayang dari orang tuanya. Apa yang terjadi jika anak-anak dibiarkan tumbuh tanpa pengawasan di lingkungan yang konotasinya tidak baik?

Di daerah perkotaan setiap orang bersaing untuk mendapatkan kelayakan hidup. Mereka dituntut untuk berusaha lebih keras daripada mereka yang hidup di daerah pedesaan. Kerasnya persaingan ekonomi di Surabaya, menyisakan sebagian dari mereka yang mengalami permasalahan perekonomian. Mereka terpaksa untuk memutus pendidikan anak-anaknya lantaran tidak ada biaya.

Orang tua dengan penghasilan rendah, terpaksa harus membanting tulang lebih keras untuk bertahan hidup. Kondisi seperti ini banyak dijumpai di kawasan eks lokalisasi Dolly, orang tua justru kurang memperdulikan anak-anaknya. Mereka sibuk bekerja hingga kurang memantau perkembangan anaknya.
Anak-anak menjadi kekurangan perhatian dan lebih agresif. Ketika kurang mendapatkan perhatian, bimbingan, serta kasih sayang dari orang tua, mereka akan pergi ke luar dan membiarkan lingkungan membimbing mereka menemukan jati diri.

Demi mendapatkan kepuasan dalam mengekspresikan diri, anak-anak sering kali bergerombol dan membentuk kelompok atau biasa disebut geng. Pertengkaran antar geng sering kali terjadi tidak hanya di kalangan pelajar SMA tetapi juga pelajar SMP dan SD.

Anak-anak hanya bisa meng-copy apa yang mereka lihat dari lingkungan tanpa memikirkan hal tersebut benar atau salah. Pada salah satu acara “school of parenting” yang diadakan di kawasan eks lokalisasi Dolly oleh yayasan sosial, seorang ibu menceritakan keresahannya dan mengeluhkan perilaku remaja zaman sekarang.

Setelah penutupan lokalisasi, banyak wisma-wisma yang ditinggalkan. Wisma-wisma yang kosong tersebut sekarang banyak dijadikan pos anak -anak dan remaja, baik laki-laki, maupun perempuan yang menggunakan pakaian tidak seronok. Mereka sering bergerombol dan berperilaku tidak baik. Di antara mereka juga terdapat anak-anak kecil yang ikut serta dalam kelompok tersebut.

Ironisnya kebanyakan dari mereka terjun ke dunia narkotika. Ketika uang saku sudah tidak mencukupi untuk membeli obat – obat terlarang, mereka berupaya mencari uang. Apa yang bisa menghasilkan uang? Tidak ada solusi cepat, selain menjadikan diri mereka sebagai produk.

Bermula dari permasalah ekonomi yang menggoyahkan keluarga. Orang tua yang agresif menjadikan anak sebagai bahan kesalahan, perpecahan keluarga tidak dapat dihindari lagi. Anak merasa terbebani, mereka harus memikirkan sesuatu yang belum sepantasnya mereka risaukan. Anak menjadi depresi berkepanjangan karena tidak mendapatkan tempat untuk mencurahkan perasaannya, obat-obatan terlarang menjadi pelarian bagi mereka.

Badan Narkotika Nasional (BNN) pun memberikan peringatan bahwa Surabaya darurat narkotika. Empat pelajar SMA di eks lokalisasi Dolly tertangkap perihal transaksi narkotika. Berdasarkan data yang dimiliki oleh yayasan sosial dan cerita dari pelaku, transaksi narkotika di eks lokalisasi Dolly semakin gencar. Tak hanya pelajar SMA, pelajar SMP pun sudah banyak yang mengkonsumsi narkotika.

Pelaku penyalahgunaan narkotika belum banyak yang tertangkap, mereka memanfaatkan tempat sepi dan gelap untuk melakukan transaksi barang haram tersebut. Diatur dalam pasal 54 UU Tentang Narkotika bahwa pecandu narkotika dan korban penyalahgunaan narkotika wajib menjalani rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial. Pasal 55 UU Tentang Narkotika mengatur bahwa orang tua atau wali dari pecandu narkotika wajib lapor kepada badan yang ditunjuk oleh pemerintah. Itu berarti bahwa orang tua atau keluarga pencandu dan bahkan pecandu sendiri bisa melapor ke Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) untuk bisa mendapatkan penanganan yang tepat.

Dalam kondisi ini, Pemerintah Kota Surabaya terus berupaya menumbuhkan aktivitas perekonomian yang bersih di eks lokalisasi Dolly. Berbagai jenis pelatihan telah diberikan, dari pelatihan keterampilan hingga pelatihan pengembangan usaha. Selain itu pemerintah juga memberikan bantuan berupa modal, sarana dan prasana untuk memulai sebuah usaha.

Untuk mengimbangi pelatihan dan bantuan usaha dari pemerintah, yayasan sosial non profit juga turut bergerak melakukan pendampingan. Pemerintah, lembaga, dan yayasan sosial bersinergi demi menciptakan wajah baru eks lokalisasi Dolly. Terutama pemuda usia produktif yang menjadi harapan terbesar dalam aktivitas perkonomian baru ini.

Usaha awal tidak selalu berhasil, butuh waktu dan pendekatan yang lebih intensif agar bisa memahami keinginan dan tujuan mereka ke depan. “Arek – arek sini kalo dikasih pelatihan apalagi yang lokasinya di luar Dolly, banyak yang males. Padahal sudah diberikan biaya transportasi dan pesangon,” jelas Kartono, salah seorang tokoh masyarakat di daerah Jarak- Kelurahan Putat Jaya.

Meskipun demikian, tujuan memulihkan perekonomian eks lokalisasi Dolly terus menerus dilakukan. Sebuah lembaga pelatihan yang bekerja sama dengan Dinas Tenaga Kerja beberapa waktu lalu melakukan pelatihan kerja. Sasarannya adalah pemuda usia produktif.

Pasca pelatihan tersebut juga disediakan jobfair, dimana peserta pelatihan bisa langsung mendapatkan pekerjaan. Nun Jumianto pemilik lembaga pelatihan menceritakan “Dulu waktu kita adakan juga jobfair, sebuah waralaba mini market membuka lowongan pekerjaan sabagai kasir. Setelah disalurkan ke pemuda di sana, mereka menolaknya, alasanya tidak mau jadi kasir.”

Pemuda eks lokalisasi Dolly adalah tolok ukur keberhasilan dari ikhtiar pemerintah, lembaga, serta yayasan sosial. Diharapkan mereka mau untuk bekerja sama bergerak aktif demi masa depan eks lokalisasi Dolly yang lebih baik.

Archives

Categories

E-Magazine PDF Version


Arsip Majalah Kertosono Versi 1.00

Susunan Redaksi Majalah Kertosono Edisi 16. Editor in Chief: Davit Adi Saputro. Senior Editor: Kusdianto, Ety Andrijana, Faizal Ansyori, Difana Jauharin. Managing Editor: Livia Alvita. Editor: Tamaya Aristalia Arlini, Halimatus Sya’dyyah, Eva Nurohmah. Digital Marketing Executive: Moh. Alfin Kholily. Art Director: Fariz R. Wijaya. Web Developer: Moch. Cholil Hamzah. Fotografi: PhoKerS. ALAMAT REDAKSI: Jl. P. Sudirman G5 Kertosono 64351 Phone : +62358-555640. PENERBIT: KERTOSONO KREASI MANDIRI (http://kkm.kertosono.net). AKUN BANK/BANK ACCOUNT: No. 2050-01-000784-53-6 BRI KCP KERTOSONO A/n: KERTOSONO KREASI MANDIRI

Pin It on Pinterest

Shares
Share This