Download PDF Majalah Kertosono Edisi 12

Catatan Redaksi

Masyarakat Adalah Aset
Paling Berharga

Kertosono adalah kota kecil yang damai. Meskipun tak bisa dipungkiri, hambar bagi pemuja hedonisme karena tidak adanya mall atau town square. Juga bukan kota tujuan pariwisata, karena letaknya bukan di pegunungan atau dekat pantai nan eksotik. Tapi sebenarnya semua itu bukanlah segalanya, karena ada sisi lain yang bisa digarap, agar Kertosono layak untuk dikunjungi.

Bukankah kualitas masyarakat itu tidak hanya ditentukan oleh hebatnya fasilitas? Tapi yang lebih penting adalah bagaimana cara mensyukuri, menjaga dan merawat fasilitas yang ada, sekaligus melestarikan sumber daya alam dan lingkungan di sekitar tempat tinggal.

Sebagaimana filosofi the man behind the gun, yaitu pola pikir yang meletakkan peran manusia lebih penting dibanding fasilitas. Dalam konteks sebuah kota, maka kurang lebih artinya adalah warga yang pintar dan terdidik itu adalah lebih penting dan aset yang sangat berharga.

Pemikiran ini sama sekali bukan anti pembangunan, karena sarana dan prasarana juga penting untuk masyarakat. Tetapi manakala pembangunannya dilaksanakan tanpa didasari misi edukatif maka akan menjadi destruktif. Justru merusak pola hidup masyarakatnya sendiri. Contohnya mall, di mana keberadaannya lebih banyak mendorong masyarakat untuk bersifat konsumtif daripada produktif.

Lain lagi kalau yang dibangun adalah universitas, museum, perpustakaan umum, gedung kesenian, area publik dan sarana olahraga misalnya. Itu semua adalah fasilitas-fasilitas yang lebih dibutuhkan oleh masyarakat untuk mengembangkan diri agar semakin pintar dan berdaya saing.

Lantas bagaimana jika sarana penunjang pendidikan itupun belum ada? Kenyataannya di Kertosono saat ini kalau ada lahan kosong, bisa dipastikan yang akan didirikan adalah kafe, ruko atau perumahan. Hal ini tidak bisa disalahkan karena Kertosono adalah kota autopilot. Masyarakat pasti mendirikan usaha yang cepat balik modal.

Sedangkan mendirikan gedung kesenian misalnya, jelas butuh dana besar, visi jauh ke depan, juga tidak bisa segera mendatangkan keuntungan finansial. Maka selayaknya ini adalah ranah pemerintah dan pengusaha besar. Tapi faktanya mereka juga ikut-ikutan berpikir pragmatis. Sudah terlihat tanda-tandanya, pabrik bakal menjamur di sekitar Kertosono.

Bagaimanapun pengembangan diri harus tetap berjalan meskipun tanpa fasilitas yang memadai. Ada sisi lain pada diri masyarakat yang selama ini lupa kurang diedukasi, yaitu moral dan etika. Tidak perlu sarana mahal untuk hal ini, karena moral dan etika hanya bisa dididik dengan teladan. Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.

Gurulah yang sangat berperan. Guru dengan sebenar-benarnya arti, bukan "guru" yang sekedar predikat. Karena guru adalah kang iso digugu lan ditiru. Orang-orang yang bisa dipercaya dan diteladani. Ketika seorang ibu bersungguh-sungguh minta maaf kepada anaknya, maka ibu itulah guru "kerendahan hati" bagi sang anak.

Ketika seorang walikota bersedia antri di kasir, maka dia adalah guru "kedisiplinan" bagi rakyatnya. Ketika di sebuah tempat umum ada seorang pelajar sekolah dasar berjalan cukup jauh dari tempat duduknya menuju tong sampah hanya untuk membuang bungkus permen, maka dia adalah guru "kebersihan" bagi orang dewasa yang melihatnya.

Ketika seorang yang terkenal kaya raya lebih suka jalan kaki, mengayuh sepeda dan naik kendaraan umum saat bepergian, maka dia adalah guru "kesederhanaan" sekaligus "peduli lingkungan" bagi orang lain. Banyak pelajaran moral dan etika yang bisa kita teladani dari, sekaligus teladankan untuk orang lain.

Semua itu sebagai pondasi untuk menyangga segala ilmu dan kekayaan yang kita dapatkan. Agar kita menjadi manusia yang beradab.

Indikasi dari pendidikan moral dan etika yang berhasil adalah Kota Kertosono yang bersih. Tidak ada sampah plastik dan kertas di jalan atau sungai, karena selain petugas kebersihan rutin melaksanakan tugasnya, masyarakat juga tertib membuangnya di tempat yang disediakan. Pepohonan tepi jalan tumbuh sehat dan rindang tanpa ada iklan yang terpaku di batangnya. Juga trotoar yang bersih dan bebas dari bangunan liar, sehingga nyaman untuk para pedestrian.

Terwujudnya disiplin berlalu lintas, kepedulian sosial dan sopan santun pada diri masing-masing warga yang tercermin dari para pengguna jalan yang selalu menjalankan kendaraannya dengan kecepatan wajar, mendahulukan para pejalan kaki dan pesepeda, sepi bunyi klakson, tidak menerobos lampu merah, berhenti dulu di tempat yang aman saat sms atau telpon.

Itu adalah sebagian kecil, karena masih banyak keberadaban dan kenyamanan yang akan dirasakan oleh siapa saja yang berkunjung ke Kota Kertosono sebagai kota yang humanis.

Firdaus Effendy
Editor In Chief

SUSUNAN REDAKSI MAJALAH KERTOSONO EDISI 12.

Editor in Chief: Firdaus Effendy.
Senior Editor: Difana Jauharin, Faizal Ansyori, Kusdianto, Ety Andrijana.
Managing Director: Davit Adi Saputro.
Editor: Livia Alvita.
Art Director: Fariz Rizky Wijaya.
Ilustrator: Andri Gianapril William, Nanda Nini Anggalih.
Photographer: Komunitas PhoKerS.
Digital Marketing Executive: Moh. Alfin Kholily

KONTRIBUTOR

Tulisan: Sofia Fahraini, Anisah Haritsah Dini, Zarista, Muhammad Aditya Kriswahyudi, Raditya Adi Buana
Fotografi: Muhammad Mustofa, Nurcahyanto Utomo

Alamat Redaksi: Jl. Merapi No. 4 RT. 03 RW. 02 Ds. Tanjung KERTOSONO
Penerbit: KERTOSONO KREASI MANDIRI. http://kkm.kertosono.net
Akun Bank / Bank Account: No. 2050-01-000784-53-6, BRI KCP KERTOSONO, A/n: KERTOSONO KREASI MANDIRI

 


Komentar untuk artikel ini sudah dialihkan ke:
Majalah Kertosono on Facebook

  Aset, Humanis, Masyarakat, Kertosono, Hedonisme